|
.
|
antopologi pendidikan
Antropologi pendidikan merupakan salah satu mata kuliah pilihan yang masuk
dalam kurikulum Jurusan Antropologi FISIP Universitas Andalas Padang.
Perkuliahan Antropologi pendidikan biasanya diletakkan pada semester ganjil
atau mahasiswa Antropologi tahun kedua. Antropologi pendidikan mencoba
mengungkapkan proses-proses transmisi budaya atau pewarisan pengetahuan
melalui proses enkulturasi dan sosialisasi. Selain itu, proses belajar
individu sebagai kegiatan sosial budaya merupakan pemahaman dari
Antropologi Pendidikan, termasuk di dalamnya peran pendidikan formal dan
pendidikan informal.
Antropologi pendidikan adalah cabang spesialisasi yang termuda dalam
antropologi. Antropologi sebagai kajian manusia dan cara-cara hidup mereka,
yang muncul pada saat lahirnya gagasan oleh semangat etnografi, arkeologi,
geologi dan terutama di dorong oleh semangat Darwinisme. Dengan didorong
oleh konsep evolusi organisme, mulailah berkembang Antropologi dengan
pandangan bahwa pada dasarnya semua kebudayaan manusia berkembang melalui
tahap-tahap yang menjurus kearah kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Eropa
dan Amerika.
Menurut ahli Antropolog Amerika, L.H.Morgan, ada tiga tahap perkembangan
kebudayaan manusia, yaitu savagery, barbarisme dan civilization yang
melukiskan proses evolusi manusia dan masyarakat dari semua manusia dan
masyarakat di dunia. Sedangkan di daerah Eropa, ada aliran Diffusionisme
(kulturkreis) yang mengemukakan bahwa berbagai kebudayaan umat manusia
bukan muncul sebagai hasil pertumbuhan paralel yang independent tetapi
merupakan difusi dan invensi dari beberapa pusat kebudayaan. Emile Durkheim,
Bronislaw Malinowski (Eropa) dan Franz Boas (Amerika) memprakarsai lahirnya
Antropologi empiris dengan mengembangkan beberapa aliran tertentu. Franz
Boas yang mempengaruhi beberapa antropolog Amerika dengan konsep kebudayaan
sebagai satu totalitas (totalitas es wholes) yang memperhatikan aspek-aspek
tertentu dari kebudayaan berbeda, sedangkan pengikutnya mengarahkan
perhatian pada pola-pola dasar atau konfigurasi-konfigurasi dari bagian
yang membuat bagian masing-masing kebudayaan berfungsi sebagai satu
keseluruhan. Maka sejak itu kajian mengenai kebudayaan dan kepribadian
menjadi inovasi utama, yaitu tentang proses bagaimana sebuah kebudayaan di
internalisasikan dan dirubah oleh individu yang memungkinkan kebudayaan
muncul dan berfungsi. (Koentjaraningrat, 1987)
Sebagai cabang ilmu termuda di antara ilmu-ilmu sosial lainnya, Antropologi
telah melampaui ilmu sosial lainnya dalam rentangan subjek matter dan
metodologi. Antropolog menghubungkan semua aspek terhadap kebudayaan
sebagai satu keseluruhan yang mengkaji semua kebudayaan baik lampau maupun
sekarang, sederhana ataupun maju. Antropolog menyadarkan kita akan
keragaman kebudayaan umat manusia dan pengaruh yang dalam dari pendidikan
(cultural conditional) terhadap perilaku dan kepribadian manusia.
B.Antropologi, Pendidikan dan Kebudayaan
1.Antropologi dan Pendidikan
Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran, pemberian
pengetahuan, keterampilan dan sikap melalui pikiran, karakter serta
kapasitas fisik dengan menggunakan pranata-pranata agar tujuan yang ingin
dicapai dapat dipenuhi. Pendidikan dapat diperoleh melalui lembaga formal
dan informal. Penyampaian kebudayaan melalui lembaga informal tersebut
dilakukan melalui enkulturasi semenjak kecil di dalam lingkungan
keluarganya. Dalam masyarakat yang sangat kompleks, terspesialisasi dan
berubah cepat, pendidikan memiliki fungsi yang sangat besar dalam memahami
kebudayaan sebagai satu keseluruhan.
Dengan makin cepatnya perubahan kebudayaan, maka makin banyak diperlukan
waktu untuk memahami kebudayaannya sendiri. Hal ini membuat kebudayaan di
masa depan tidak dapat diramalkan secara pasti, sehingga dalam mempelajari
kebudayaan baru diperlukan metode baru untuk mempelajarinya. Dalam hal ini
pendidik dan antropolog harus saling bekerja sama, dimana keduanya
sama-sama memiliki peran yang penting dan saling berhubungan. Pendidikan
bersifat konservatif yang bertujuan mengekalkan hasil-hasil prestasi
kebudayaan, yang dilakukan oleh pemuda-pemudi sehinga dapat menyesuaikan
diri pada kejadian-kejadian yang dapat diantisipasikan di dalam dan diluar
kebudayaan serta merintis jalan untuk melakukan perubahan terhadap
kebudayaan.
G.D. Spindler berpendirian bahwa kontribusi utama yang bisa diberikan
antropologi terhadap pendidikan adalah menghimpun sejumlah pengetahuan
empiris yang sudah diverifikasikan dengan menganalisa aspek-aspek proses
pendidikan yang berbeda-beda dalam lingkungan social budayanya. Teori
khusus dan percobaan yang terpisah tidak akan menghasilkan disiplin
antropologi pendidikan. Pada dasarnya, antropologi pendidikan mestilah
merupakan sebuah kajian sistematik, tidak hanya mengenai praktek pendidikan
dalam prespektif budaya, tetapi juga tentang asumsi yang dipakai antropolog
terhadap pendidikan dan asumsi yang dicerminkan oleh praktek-praktek
pendidikan.(Imran Manan, 1989)
Dengan mempelajari metode pendidikan kebudayaan maka antropologi bermanfaat
bagi pendidikan. Dimana para pendidik harus melakkan secara hati-hati. Hal
ini disebabkan karena kebudayaan yang ada dan berkembang dalam masyarakat
bersifat unik, sukar untuk dibandingkan sehingga harus ada perbandingan
baru yang bersifat tentatif. Setiap penyeldikan yang dilakukan oleh para
ilmuwan akan memberikan sumbangan yang berharga dan mempengaruhi
pendidikan.
Antropologi pendidikan dihasilkan melalui teori khusus dan percobaan yang
terpisah dengan kajian yang sistematis mengenai praktek pendidikan dalam
prespektif budaya, sehingga antropolog menyimpulkan bahwa sekolah merupakan
sebuah benda budaya yang menjadi skema nilai-nilai dalam membimbing
masyarakat. Namun ada kalanya sejumlah metode mengajar kurang efektif dari
media pendidikan sehingga sangat berlawanan dengan data yang didapat di
lapangan oleh para antropolog. Tugas para pendidik bukan hanya
mengeksploitasi nilai kebudayaan namun menatanya dan menghubungkannya
dengan pemikiran dan praktek pendidikan sebagai satu keseluruhan.
2. Makna Kebudayaan
Makna kebudayaan, secara sederhana berarti semua cara hidup (ways of life)
yang telah dikembangkan oleh anggota masyarakat. Dari prespektif lain kita
bisa memandang suatu kebudayaan sebagai perilaku yang dipelajari dan
dialami bersama (pikiran, tindakan, perasaan) dari suatu masyarakat
tertentu termasuk artefak-artefaknya, dipelajari dalam arti bahwa perilaku
tersebut disampaikan (transmitted) secara sosial, bukan diwariskan secara
genetis dan dialami bersama dalam arti dipraktekkan baik oleh seluruh
anggota masyarakat atau beberapa kelompok dalam suatu masyarakat.
Masyarakat merupakan suatu penduduk lokal yang bekerja sama dalam jangka waktu
yang lama untuk mencapai tujuan tertentu, sedangkan kebudayaan merupakan
cara hidup dari masyarakat tersebut atau hal-hal yang mereka pikirkan,
rasakan dan kerjakan. Masyarakat mungkin saja memiliki satu kebudayaan jika
masyarakat tersebut kecil, terpisah dan stabil.
3. Isi Kebudayaan
Pada dasarnya gejala kebudayaan dapat diklasifikasikan sebagai
kegiatan/aktivitas, gagasan/ide dan artefak yang diperoleh, dipelajari dan
dialami. Kebudayaan dapat diklasifikasikan atas terknologi sebagai
alat-alat yang digunakan, organisasi sosial sebagai kegiatan institusi
kebudayaan dan ideologi yang menjadi pengetahuan atas kebudayaan tersebut.
Menurut R. Linton, kebudayaan dapat diklasifikasikan atas:
1. Universals: pemikiran-pemikiran, perbuatan, perasaan dan artefak yang
dikenal bagi semua orang dewasa dalam suatu masyarakat.
2. Specialisties: gejala yang dihayati hanya oleh anggota kelompok sosial
tertentu.
3. Alternatives: gejala yang dihayati oleh sejumlah individu tertentu
seperti golongan profesi.
Kebudayaan merupakan gabungan dari keseluruhan kesatuan yang ada dan
tersusun secara unik sehingga dapat dipahami dan mengingat masyarakat
pembentuknya. Setiap kebudayaan memiliki konfigurasi yang cocok dengan
sikap-sikap dan kepercayaan dasar dari masyarakat, sehingga pada akhirnya
membentuk sistem yang interdependen, dimana koherensinya lebih dapat
dirasakan daripada dipikirkan pembentuknya. Kebudayaan dapat bersifat
sistematis sehingga dapat menjadi selektif, menciptakan dan menyesuaikan
menurut dasar-dasar dari konfigurasi tertentu. Kebudayaan akan lancar dan
berkembang apabila terciptanya suatu integrasi yang saling berhubungan.
Dalam kebudayaan terdapat subsistem yang paling penting yaitu foci yang
menjadi kumpulan pola perilaku yang menyerap banyak waktu dan tenaga.
Apabila suatu kebudayaan makin terintegrasi maka fokus tersebut akan makin
berkuasa terhadap pola perilaku dan makin berhubungan fokus tersebut satu
dengan yang lainnya dan begitu pula sebaliknya. Kebudayaan akan rusak dan
bahkan bisa hancur apabila perubahan yang terjadi terlalu dipaksakan,
sehingga tidak sesuai dengan keadaan masyarakat tempat kebudayaan tersebut
berkembang. Perubahan tersebut didorong oleh adanya tingkat integrasi yang
tinggi dalam kebudayaan. Apabila tidak terintegrasi maka kebudayaan
tersebut akan mudah menyerap serangkaian inovasi sehingga dapat
menghancurkan kebudayaan itu sendiri.
4. Sifat Kebudayaan
Kebudayaan yang berkembang pada masyarakat memiliki sifat seperti:
1. Bersifat organik dan superorganik karena berakar pada organ manusia dan
juga karena kebudayaan terus hidup melampaui generasi tertentu.
2. Bersifat terlihat (overt) dan tersembunyi (covert) terlihat dalam
tindakan dan benda, serta bersifat tersembunyi dalam aspek yang mesti
diintegrasikan oleh tiap anggotanya.
3. Bersifat eksplisit dan implisit berupa tindakan yang tergambar langsung
oleh orang yang melaksanakannya dan hal-hal yang dianggap telah diketahui
dan hal-hal tersebut tidak dapat diterangkan.
4. Bersifat ideal dan manifest berupa tindakan yang harus dilakukannya
serta tindakan-tindakan yang aktual.
5. Bersifat stabil dan berubah yang diukur melalui elemen-elemen yang
relatif stabil dan stabilitas terhadap elemen budaya.
5. Teori-teori Kebudayaan
Ada tiga pandangan tentang kebudayaan, yakni:
1. Superorganik: kebudayaan adalah realitas super dan ada di atas dan di
luar pendukung individualnya dan kebudayaan memiliki hukum-hukumnya
sendiri. Inti pandangan superorganik adalah kebudayaan merupakan sebuah
kenyataan sui generis, karena itu mesti dijelaskan dengan hukum-hukumnya
sendiri. Kebudayaan tidak mungkin diterangkan dengan menggunakan sumbernya
sebagaimana sebuah molekul dimengerti hanya dengan jumlah atom-atomnya,
sumber-sumber bisa menjelaskan bagaimanan kebudayaan muncul, tetapi bukan
kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan lebih daripada hasil kekuatan-kekuatan
sosial dan ekonomi dan kebudayaan merupakan realitas yang menyebabkannya
mungkin ada.
Pandangan superorganik mempunyai implikasi terhadap pendidikan. Yang
pertama adalah bahwa pendidikan ialah sebuah proses mengontrol manusia dan
membentuknya sesuai dengan tujuan kebudayaan. Kebijakan pendidikan
ditentukan oleh individu-individu, tetapi individu-individu hanya alat
melalui mana kekuatan-kekuatan budaya mencapai tujuannya. Jika kebudayaan
menentukan perilaku anggota-anggotanya, kurikulum mesti dikembangkan atas
kajian langsung dari keadaan kebudayaan sekarang dan masa depan. Pandangan
superorganik juga berimplikasi pada pengawasan pendidikan yang ketat dari
pemerintah untuk menjamin bahwa guru-guru menanamkan dalam diri generasi
muda atas gagasan-gagasan, sikap-sikap dan keterampilan-keterampilan yang
perlu bagi kelanjutan kebudayaan.
2. Konseptualis: kebudayaan bukanlah suatu entitas sama sekali, tetapi
sebuah konsep yang digunakan antropolog untuk menghimpun/meunifikasikan
serangkaian fakta-fakta yang terpisah-pisah. Menurut kaum konseptualis,
pada akhirnya semua kebudayaan mesti diterangkan secara sosial psikologis.
Kebudayaan bukan dihasilkan dari kekuatan super human karena kebudayaan
mendapatkan semua kualitas dari kepribadian dan interaksi dari kepribadian.
Pengikut konseptualis setuju bila anak-anak harus mempelajari warisan
budaya sesuai dengan perhatiannya. Melalui pengalamannya sendiri dengan
mengetes pengalaman belajarnya dan orang lain bila mendapat pandangan dan
hal yang objektif mengenai kebudayaan.
3. Realis: kebudayaan adalah kedua-duanya, yaitu sebuah konsep dan entitas
empiris. Kebudayaan adalah konsep dimana ia bangunan dari Antropologi dan
kebudayaan sebuah entitas empiris yang menunjukkan cara mengorganisir
fenomena-fenomena. Beberapa antropolog mempertahankan bahwa kebudayaan
merupakan konsep dan realita yang berbentuk konstruk, bukan sebagai satu
entitas yang bisa diamati tapi nyata karena tidak berbeda dalam
mengamatinya.
Menurut kaum realis terhadap pendidikan adalah dengan menanamkan
pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan tertentu yang dipilih kebudayaan
maka sistem pendidikan akan melatih individu untuk merubah kebudayaannya.
C. Transmisi Budaya dan Pendidikan
Dalam kepustakaan antropologi pendidikan ditemukan beberapa konsep yang
paling penting, yakni enculturation (pembudayaan/pewarisan), socialization
(sosialisasi/pemasyarakatan), education (pendidikan), dan schooling
(persekolahan).
Menurut Herskovits, bahwa enkilturasi berasal dari aspek-aspek dari
pengalaman belajar yang memberi ciri khusus atau yang membedakan manusia
dari makhluk lain dengan menggunakan pengalaman-pengalaman hidupnya. Proses
enkulturatif bersifat kompleks dan berlangsung hidup, tetapi proses
tersebut berbeda-beda pada berbagai tahap dalam lingkaran kehidupan
seorang. Enkulturasi terjadi secara agak dipaksakan selama awal masa
kanak-kanak tetapi ketika mereka bertambah dewasa akan belajar secara lebih
sadar untuk menerima atau menolak nilai-nilai atau anjuran-anjuran dari
masyarakatnya. Bahwa tiap anak yang baru lahir memiliki serangkaian
mekanisme biologis yang diwarisi, yang harus dirubah atau diawasi supaya
sesuai dengan budaya masyarakatnya.
Kesamaan dari konsep enkulturasi dengan konsep sosialisasi terlihat dari
pernyataan Herkovits yang mengatakan bahwa sosialisasi menunjukkan proses
pengintegrasi individu ke dalam sebuah kelompok sosial, sedangkan
enkulturasi adalah proses yang menyebabkan individu memperoleh kompetensi
dalam kebudayaan kelompok.
Menurut Hansen, enkulturasi mencakup proses perolehan keterampilan
bertingkah laku, pengetahuan tentang standar-standar budaya, dan kode-kode
perlambangan seperti bahasa dan seni, motivasi yang didukung oleh
kebudayaan, kebiasaan-kebiasaan menanggapi, ideologi dan sikap-sikap.
Sedangkan sosialisasi menurut Gillin dan Gillin adalah proses yang membawa
individu dapat menjadi anggota yang fungsional dari suatu kelompok, yang
bertingkah laku menurut standar-standar kelompok, mengikuti
kebiasaan-kebiasaan kelompok , mengamalkan tradisi kelompok dan
menyesuaikan dirinya dengan situasi-situasi sosial yang ditemuinya untuk
mendapatkan penerimaan yang baik dari teman-teman sekelompoknya.
Bagi Herskovits, pendidikan (education) adalah ”directed learning” dan
persekolahan (schooling) adalah “formalized learning”. Dalam literature
pendidikan dewasa ini dikenal istilah pendidikan formal, informal dan
non-formal. Pendidikan formal adalah system pendidikan yang disusun secara
hierarkis dan berjenjang secara kronologi mulai dari sekolah dasar sampai
ke universitas dan disamping pendidikan akademis umum termasuk pula
bermacam-macam program dan lembaga untuk pendidikan kejuruan teknik dan
profesional.
Pendidikan informal adalah pendidikan seumur hidup yang memungkinkan
individu memperoleh sikap-sikap, nilai-nilai, keterampilan-keterampilan dan
pengaruh-pengaruh yang ada di lingkungannya dari keluarga, tetangga. Label
informal berasal dari kenyataan bahwa tipe proses belajarnya bersifat tidak
terorganisasi dan tidak tersistematis. Pendidikan informal biasanya
dilaksanakan dalam masyarakat sederhana dimana belum ada sekolah.
Karangan Margared Mead mengenai pendidikan dalam masyarakat sederhana
(1942), dimana ia membedakan antara learning cultures dan teaching cultures
atau kebudayaan belajar dan kebudayaan mengajar. Dalam golongan yang
pertama, warga masyarakatnya belajar dengan cara yang tidak resmi yaitu
dengan berperan serta dalam kehidupan rutin sehari-hari. Dimana mereka
memperoleh segala pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang mereka
perlukan untk dapat hidup dengan layak dalam masyarakat dan kebudayaan
mereka sendiri. Dalam golongan yang kedua, warga masyarakat mendapat
pelajaran dari warga-warga lain yang lebih tahu, yang seringkali dilakukan
dalam pranata-pranata pendidikan yang resmi, dimana mereka memperoleh
segala pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang mereka perlukan.
Pendidikan non-formal merupakan kegiatan terorganisasi di luar kerangka
sekolah formal atau sistem universitas yang ada yang bertujuan untuk
mengkomunikasikan gagasan-gagasan tertentu, pengetahuan, sikap-sikap.
Pendidikan non-formal memusatkan perhatian kepada perbaikan kehidupan
sosial dan kemampuan dalam pekerjaan. Pendidikan non-formal lebih
berorientasi terhadap menolong individu-individu memecahkan masalah mereka,
bukan pada penyerapan isi kurikulum tertentu. Pengajaran dilakukan melalui
kerjasama dengan guru, umpamanya dengan pekerja-pekerja ahli, pekerja
sosial, penyuluh pertanian, dan petugas kesehatan.
D. Pendidikan Adalah Kebudayaan : Renungan Leo Tolstoy
Persoalan pendidikan yang rumit memicu berbagai tingkat dalam berbagai cara
, pentingnya masalah pendidikan hingga para filsuf pertama mengembangkan
teori-teori formal yang mengkaitkan pendidikan dengan konsepsi politik
serta hakikat manusia, ditingkat yang kurang formal orang tua bertanggung
jawab mengembangkan prinsip pengasuhan anak dalam masyarakat serta
nilai-nilai anak dimasa depan sebagai individu dan warganegara
Kedua masalah ini mempunyai konflik yang khusus di masyarakat yang kompleks
menuntut cara-cara formal untuk menyalurkan perbaharuan tentang kebudayaan
serta pentingnya meneliti fungsi pendidikan dalam kebudayaan. Asumsi ini
muncul karena frustasi Tolstoy yang menjangkit di dunia pendidikan secara
objektif, Tolstoy melihat usaha pendidikan berlangsung secara otomatis yang
terlihat dengan tidak mempedulikan sasaran-sasaran serta tujuan-tujuan yang
sejati yang terbelenggu oleh pemikiran-pemikiran dan tata cara tradisional,
seorang murid telah diabaikan sebagai faktor dalam pemikiran tentang
pendidikan. Kegagalan mengenali fakta pokok ini menyuburkan
penyimpangan-penyimpangan dan kesalahan konsep yang menjamin kegagalan
pendidikan.
Asumsi plato sama dengan yang dirasakan Tolstoy yang menyaksikan
penyia-nyiaan bakat serta kurangnya kreatifitas kaum muda dimasyarakat
Atena. Hal serupa juga sama yang menyerupai asumsi Jean-Jacques Rousseau
yang merasa dirinya harus mencari pandang sepenuhnya baru dan segar untuk
menatap keseluruhan proses pendidikan serta nalar yang mendasarinya. John
Dewey juga mengajukan pedagogi baru yang didasari psikologi yang nalar.
Pandangan Tolstoy tidak tuntas karena lebih menyinarkan akal sehat romantis
pragmatis, ad bock atau anti teoritis. Tolstoy mengungkapkan renungan yang
cukup mendalam bagaimana seharusnya kita berkarya. Asumsi Tolstoy memakai
dua sumber konsepsi philosofisnya tentang kehidupan secara umum dan
kesenian secara khusus serta pengalaman praktis yang ia dapatkan dari
sekolah anak-anak tani yang didirikannya. Di Yasno-Polyana pengaruh dua
sumber ini saling berkaitan anatara satu dengan yang lainnya. Tolstoy
memakai anekdok percakapannya dengan salah seorang murid, Fedka tentang
hubungan antara seni dengan kebudayaan sebagai titik tolak pengantar karya
besarnya dibidang estetika.
Pandangan Tolstoy tentangan kehidupan bersifat romantis yang menekankan
pentingnya roh manusia yang bebas dihidupkan oleh Tuhan dan diarahkan oleh
minat, emosi serta hasrat pribadi. Pandangan Tolstoy sama dengan Rousseau
tetapi Tolstoy tetap mengkritik yang pedas terhadap Rousseau dan menolak
gagasan-gagasan pendidikan Rousseau. Orang menganggap Rousseau sebagai
“sibiang onar”, yang memuja-muja manusia tak beradap dan luhur. Tolstoy
memahi adanya prinsip lain yang dominan terhadap pemikiran Rousseau
misalnya dalam kontrak sosial kita temukan konsepsi Rosseau tentang
kebebasan sosial yang bersemi dari suatu folonte general atau
anti-individualistik menurutnya masyarakat ideal mempunyai tujuan untuk
mencapai keseimbangan terhadap penekanan individualitas keotoritas sosial
yang bernuansa platonic. Asumsi ini yang ditolak oleh Tolstoy menurutnya
kebebasan individual merupaka suatu titik tolak yang positif
Gaya penulis Tolstoy luwes nyastra, tidak terikat logika, serta bersifat
sentimental, ironis dan sarkastis yang penuh dengan paradoks, dan
pernyataan-pernyataan yang bersifat impresionistik yang sangat tajam
tentang pendidikan, menurutnya pendidikan mempunyai empat unsur pokok
diantaranya
1. Guru yang merupakan agen utama yang bertujuan mengarahkan dan memikiul
tanggung jawab terhadap proses pendidikan.
2. Murid yang menjadi objek upaya pendidikan, yang perilakunya diubah dan
dimodifikasi.
3. Bahan pengajaran pengertahuan yang ditanamakan kepada murid
4. Tujuan, sasaran, cita-cita dan hasil akhir yang diharapkan dari proses
pendidikan akhir.
Pemahaman ini merupakan kritikan Tolstoy tentang pendidikan yang ada di
Rusia. Ia juga mengkritik tentang pendidikan yang ada di Eropa dan Amerika,
baik pendidikan klasik maupun pendidikan yang berkembang pada masa Tolstoy.
Menurut Aristoteles Sasaran pendidikan adalah untuk mencapai kehidupan yang
baik. Berbeda dengan asumsi dari Tolstoy yang beranggapan bahwa pendidikan
tidak punya sasaran, tujuan dari pendidikan berasal dari proses pendidikan
itu sendiri atau disebut dengan pemahaman. Konsep utama menurutnya adalah
kebudayaan yang merupakan nilai-nilai masyarakat yang maju yang tetap
bertahan meski di cam dengan kritikan-kritikan dan dijadikan sebagai
klaim-klaim yang saling bertentangan, kebudayaan tampil sebagai lumbung dan
nilai-nilai yang besar
Rousseau menganggap pendidikan merupakan jalan pembebasan-pembebasan
individu dari prasangka-prasangka. Tolstoy tetap tidak setuju dengan
pendapat Rousseau, ia tidak menyangkal pentingnya nilai-nilai yang
Utilitarian yang tidak sengaja timbul dari pendidikan, tapi dia juga
menyetujui bahwa pendidikan merupakan proses membebaskan individu agar
berimprovisasi secara kreatif melalui pemahaman.
Tolstoy mendekati pendidikan tanpa akhir dan kepastian, menurutnya
kebudayaan dijelaskan dengan berbagai konsep. Menurutnya kebudayaan
merupakan sebuah prinsip liberar humanistic yang menjelaskan kesetaraan
semua manusia dan pentingnya realisasi diri yang tidak mempunyai arah yang
pasti bagi kegiatan manusia. Dia melihat ketidak pastian tentang prinsip
ini. Hendaknya kita tidak melihat kembali mengenai prinsip pendidikan yang
mengarah kepada nilai-nilai tradisional, tapi kita melihat semangat dari
kebebasan manusia individu tentang pendidikan yang mempunyai arah sendiri,
konsep ini merupakan konsep radikal yang merupakan titik tolak pendidik
pragmatis Amerika, tujuan pendidikan dalam pandangan ini dikebumikan
menjadi kegiatan yang mempunyai tujuan pragtis yang memiliki dampak yang
jelas yang sangat bergantung pada akal sehat
Tugas-tugas pokok guru adalah mencari cara bagaimana menjadikan pengetahuan
atau bahan pelajaran pendidikan bermakna bagi murid sehingga persekolahan
bermakna bagi siswa. Kebanyakan teori pendidikan menyerahkan tugas-ugas
pada guru, tapi dalam skema pendidikan Tolstoy setiap tugas tersebut mempunyai
arti khusus, karena ia menolak bahwa belajar merupakan suatu hal yang wajib
yang ditanamkan diluar individu atas dasar takut akan hukuman.
Seorang guru menurut Tolstoy dapat memutuskan metoda apa yang dipakai untuk
mengajarkan bahan-bahannya, dan mengambil keputusan tentang apa yang akan
diajarkan. Teori pendidikan yang konfensional yang lain tidak memberi peran
sebesar ini pada guru menurutnya guru tidak hanya mengajarkan bahan-bahan
secara tradisional yang telah diketahuinya tapi seorang guru dituntut memahami
nilai-nilai masyarakat pada saat proses belajar berlangsung.
Menurut Tolstoy guru merupakan seorang seniman yang mandiri dan kreatif
yang merangsang murid-murid untuk memahami aspek-aspek kebudayaan yang
dianggap bernilai. Seorang guru diberikan kebebasan yang luar biasa
terhadap nilai. Tugas pendidik bukan hanya menyiapkan kurikulum yang
mencerminkan kebudayaan semu yang dijalin dengan prasangka atau
konsepsi-konsepsi arti fisial para teoritisi yang bersifat abstrak. Seorang
guru harus memahami dunia nyata, kebudayaannya serta menyiapkan murid agar
tumbuh dan berkembang didalamnya. Menurutnya pendidikan konfenisonal gagal
menjalankan tugas itu karena kehilangan asumsi yang terkait timbal balik
antara sekolah dengan kehidupan sehingga pendidikan tidak efektif. Bidang
studi termasuk modus penyelidikan terkait seorang guru harus memahami apa
yang diajarkan dengan disiplin kejujuran intelektual serta ketangguhan
logika.
Pusat dari proses pendidikan yang fital adalah keterlibatan dinamis setiap
murid secara individu sesuai dengan aspek-aspek tertentu dan pemahaman
kebudayaan melalui arahan seorang guru yang memusatkan pada aspek-aspek
bidang studi yang dianggap paling berharga. Tidak ada bidang studi yang
diskralkan dan harus dipelajari oleh semua murid. Yang harus ditanamkan
adalah keterampilan dan kepekaan terhadap bidang studi. Menurut Tolstoy
pengetahuan ilmiah merupakan suatu hal yang terpadu. Ilmu pengetahuan sama
dengan kebudayaan dimana kebudayaan diambil dan disederhanakan. Tiap
disiplin akademik bisa menjadi jalan untuk memahami konsep kebudayaan.
Gagasan Tolstoy tentang psikologi murid menurutnya seorang murid merupakan
pribadi yang berusia muda yang mempunyai keresahan, ketakutan serta
keingintahuaan keintelektulan dan imajinasi yang tidak terbatas.
Ada dua cara pengarahan pendidikan menurut psikologi anak yang pertama
menimbulkan semangat, minat anak yang di didik. Yang kedua seorang guru
memberikan motif-motif yang efektif untuk mengajak anak agar belajar.
Sekolah harus mengikuti alur motif-motif ini. Metode ini diterapkan sebagai
keyakinan-keyakinan yang bersifat pribadi. Contoh ini mengalami kegagalan
tapi ia mencoba mencari metode yang tepat.
Contoh yang diajukan dalam perjalanan mengembangkan pendidikan yang
bersifat permisif ekstrim tidak hanya dalam teknik pengajarannya tapi juga
pengorganisasian bidang studinya dan prinsip-prinsip pendisiplinannya.
Para murid dan guru yang ada disekolah Tolstoy mempunyai kebebasan untuk
tidak belajar dan mengajar. Menurutnya peran utama guru adalah sebagai
pendengar lalu memodifikasi apa yang didengarnya. Tidak ada silabus dan
batasan belajar yang harus ditaati. Kita dapat melihat pandangan Tolstoy
yang tidak logis tapi ada konsitensi yang menyatukan pandangan itu yaitu
yang diarahkan kepada pembebasan murid. Ada keterkaitan antara tujuan
pendidikan, peran guru, metoda pengajaran, konsepsi tentang murid serta
tata cara yang diharapkan bisa merangsang murid untuk memulai pemikirannya
sendiri.
Dari asumsi yang telah diterangkan oleh Leo Tolstoy jelas disini bahwa dia
adalah seorang teoritikus pendidikan. Dia tidak mempunyai doktrin yang
saling terkait secara logis. Dijelaskan bahwa pandangan dari Tolstoy
memaparkan terhadap anti teori. Tetapi ada aspek-aspek pemikirannya yang
muncul kembali dalam pemikiran Dewey. Diantara kritik-kritik Tolstoy
dipakai pada abad ke-19 tentang kemampuan mencapai kesempurnaan yang tidak
terbatas secara otomatis. Bagi Tolstoy pendidikan yang bebas tidak harus
diartikan sebagai kehidupan tanpa pendidikan sama sekali. Tolstoy ingin
agar diterimanya sebuah tanggung jawab untuk mendidik yang menekankan
faktor lingkungan sosial dalam pendidikan. Hal ini juga dipakai oleh para
pemikir modern begitu juga para teoritisi zaman sekarang memakai pemikiran
Tolstoy tentang pentingnya motifasi intrinsik murid yang berasal
kebutuhan-kebutuhannya sendiri.
Tolstoy tidak hanya mereformasikan pendidikan tapi ia juga ingin membangun
konsepsi baru yang segar mengenai masyarakat serta nilai individu yang ada
didalamnya, baginya teori pendidikan adalah usaha yang memberikan nalar
bukan nalar yang mendasari pendidikan, teori pendidikan dianggapnya
jaringan-jaringan pernyataan yang membenarkan diri serta menjalankan sebuah
system yang masih dangkal, menurutnya pendekatan baru harus didasarkan pada
renungan-renungan, analogi, pengamatan dengan kesadaran eksistensial bukan
berdasarkan pernyataan-pernyataan ilmiah tertata atau logis
Pendekatannya yang romantik, dan penuh renungan pandanagnnya tentang
pendidikan bukan ilogis bertentangan dengan logika, tapi lebih sering
non-logis , tidak mengikuti alur logika yang dicarinyta bukan system
pemikiran koheren melainkan renungan kedalam pendidikan. Salah satu akibat
pemikiranya terjadinya kesimpangsiurandefenisi istilah pokok tentang
pendidkan, instruksi pengajaran, kebudayaan, pedalogi dan ilmu pengetahuan
yang dipakai berulangulang tanpa ada penjelasan sama sekali, hal ini
membuat para analis modern marah membaca karyanya , tapi akhirnya mereka
sadar bahwa Tolstoy adalah seorang penyair yang mencari panangan baru yang
lebih mendalam tentang pendidikan
Filsuf Alfred North whitehead dalam renunganya tentang pendidikan yang sama
dengan Tolstoy yaitu tentang menyikapi keterkaitan timbale balik antara
cara dengan tujuan dalam pendidikan, ia menunjukan kemampuan pembedaan-pembedaan
yang logis konvensional dan menelusuri jalur baru mengenai tujuan dan
sasaran dalam pendidikan, gagasanya akhirnya dipetik oleh teoritisi dan
dimasukan pada teori-teori progesif baru di dukung oleh bukti-bukti dari
ilmu-ilmu social yang baru berkembang.
Kesimpulanya teori pendidikan Tolstoy adalah heuristic, yang merangsang
pembaca untuk menyelidiki, berfikir, menata diri sendiri, ia menentang kita
memakai sudut pandang yang betul-betul baru. Pendekatan yang di gunakan
tidak katalistik. Ia hanya menyarankan arah-arah yang positif bagi
reformasi pendidikan serta menawarkan dasar-dasar baru untuk menetapkan
prioritas pendidikan.
Antropologi Pendidikan: Suatu Pengantar
Oleh: Lucky Zamzami
A. Pendahuluan
Antropologi pendidikan merupakan salah satu mata kuliah pilihan yang masuk
dalam kurikulum Jurusan Antropologi FISIP Universitas Andalas Padang.
Perkuliahan Antropologi pendidikan biasanya diletakkan pada semester ganjil
atau mahasiswa Antropologi tahun kedua. Antropologi pendidikan mencoba mengungkapkan
proses-proses transmisi budaya atau pewarisan pengetahuan melalui proses
enkulturasi dan sosialisasi. Selain itu, proses belajar individu sebagai
kegiatan sosial budaya merupakan pemahaman dari Antropologi Pendidikan,
termasuk di dalamnya peran pendidikan formal dan pendidikan informal.
Antropologi pendidikan adalah cabang spesialisasi yang termuda dalam
antropologi. Antropologi sebagai kajian manusia dan cara-cara hidup mereka,
yang muncul pada saat lahirnya gagasan oleh semangat etnografi, arkeologi,
geologi dan terutama di dorong oleh semangat Darwinisme. Dengan didorong
oleh konsep evolusi organisme, mulailah berkembang Antropologi dengan
pandangan bahwa pada dasarnya semua kebudayaan manusia berkembang melalui
tahap-tahap yang menjurus kearah kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Eropa
dan Amerika.
Menurut ahli Antropolog Amerika, L.H.Morgan, ada tiga tahap perkembangan
kebudayaan manusia, yaitu savagery, barbarisme dan civilization yang
melukiskan proses evolusi manusia dan masyarakat dari semua manusia dan
masyarakat di dunia. Sedangkan di daerah Eropa, ada aliran Diffusionisme
(kulturkreis) yang mengemukakan bahwa berbagai kebudayaan umat manusia
bukan muncul sebagai hasil pertumbuhan paralel yang independent tetapi
merupakan difusi dan invensi dari beberapa pusat kebudayaan. Emile
Durkheim, Bronislaw Malinowski (Eropa) dan Franz Boas (Amerika)
memprakarsai lahirnya Antropologi empiris dengan mengembangkan beberapa
aliran tertentu. Franz Boas yang mempengaruhi beberapa antropolog Amerika
dengan konsep kebudayaan sebagai satu totalitas (totalitas es wholes) yang
memperhatikan aspek-aspek tertentu dari kebudayaan berbeda, sedangkan
pengikutnya mengarahkan perhatian pada pola-pola dasar atau
konfigurasi-konfigurasi dari bagian yang membuat bagian masing-masing
kebudayaan berfungsi sebagai satu keseluruhan. Maka sejak itu kajian
mengenai kebudayaan dan kepribadian menjadi inovasi utama, yaitu tentang
proses bagaimana sebuah kebudayaan di internalisasikan dan dirubah oleh
individu yang memungkinkan kebudayaan muncul dan berfungsi.
(Koentjaraningrat, 1987)
Sebagai cabang ilmu termuda di antara ilmu-ilmu sosial lainnya, Antropologi
telah melampaui ilmu sosial lainnya dalam rentangan subjek matter dan
metodologi. Antropolog menghubungkan semua aspek terhadap kebudayaan
sebagai satu keseluruhan yang mengkaji semua kebudayaan baik lampau maupun
sekarang, sederhana ataupun maju. Antropolog menyadarkan kita akan
keragaman kebudayaan umat manusia dan pengaruh yang dalam dari pendidikan
(cultural conditional) terhadap perilaku dan kepribadian manusia.
B. Antropologi, Pendidikan dan Kebudayaan
1. Antropologi dan Pendidikan
Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran, pemberian
pengetahuan, keterampilan dan sikap melalui pikiran, karakter serta kapasitas
fisik dengan menggunakan pranata-pranata agar tujuan yang ingin dicapai
dapat dipenuhi. Pendidikan dapat diperoleh melalui lembaga formal dan
informal. Penyampaian kebudayaan melalui lembaga informal tersebut
dilakukan melalui enkulturasi semenjak kecil di dalam lingkungan
keluarganya. Dalam masyarakat yang sangat kompleks, terspesialisasi dan
berubah cepat, pendidikan memiliki fungsi yang sangat besar dalam memahami
kebudayaan sebagai satu keseluruhan.
Dengan makin cepatnya perubahan kebudayaan, maka makin banyak diperlukan
waktu untuk memahami kebudayaannya sendiri. Hal ini membuat kebudayaan di
masa depan tidak dapat diramalkan secara pasti, sehingga dalam mempelajari
kebudayaan baru diperlukan metode baru untuk mempelajarinya. Dalam hal ini
pendidik dan antropolog harus saling bekerja sama, dimana keduanya
sama-sama memiliki peran yang penting dan saling berhubungan. Pendidikan
bersifat konservatif yang bertujuan mengekalkan hasil-hasil prestasi
kebudayaan, yang dilakukan oleh pemuda-pemudi sehinga dapat menyesuaikan
diri pada kejadian-kejadian yang dapat diantisipasikan di dalam dan diluar
kebudayaan serta merintis jalan untuk melakukan perubahan terhadap
kebudayaan.
G.D. Spindler berpendirian bahwa kontribusi utama yang bisa diberikan
antropologi terhadap pendidikan adalah menghimpun sejumlah pengetahuan
empiris yang sudah diverifikasikan dengan menganalisa aspek-aspek proses
pendidikan yang berbeda-beda dalam lingkungan social budayanya. Teori
khusus dan percobaan yang terpisah tidak akan menghasilkan disiplin
antropologi pendidikan. Pada dasarnya, antropologi pendidikan mestilah
merupakan sebuah kajian sistematik, tidak hanya mengenai praktek pendidikan
dalam prespektif budaya, tetapi juga tentang asumsi yang dipakai antropolog
terhadap pendidikan dan asumsi yang dicerminkan oleh praktek-praktek
pendidikan.(Imran Manan, 1989)
Dengan mempelajari metode pendidikan kebudayaan maka antropologi bermanfaat
bagi pendidikan. Dimana para pendidik harus melakkan secara hati-hati. Hal
ini disebabkan karena kebudayaan yang ada dan berkembang dalam masyarakat
bersifat unik, sukar untuk dibandingkan sehingga harus ada perbandingan
baru yang bersifat tentatif. Setiap penyeldikan yang dilakukan oleh para
ilmuwan akan memberikan sumbangan yang berharga dan mempengaruhi
pendidikan.
Antropologi pendidikan dihasilkan melalui teori khusus dan percobaan yang
terpisah dengan kajian yang sistematis mengenai praktek pendidikan dalam
prespektif budaya, sehingga antropolog menyimpulkan bahwa sekolah merupakan
sebuah benda budaya yang menjadi skema nilai-nilai dalam membimbing
masyarakat. Namun ada kalanya sejumlah metode mengajar kurang efektif dari
media pendidikan sehingga sangat berlawanan dengan data yang didapat di
lapangan oleh para antropolog. Tugas para pendidik bukan hanya
mengeksploitasi nilai kebudayaan namun menatanya dan menghubungkannya
dengan pemikiran dan praktek pendidikan sebagai satu keseluruhan.
2. Makna Kebudayaan
Makna kebudayaan, secara sederhana berarti semua cara hidup (ways of life)
yang telah dikembangkan oleh anggota masyarakat. Dari prespektif lain kita
bisa memandang suatu kebudayaan sebagai perilaku yang dipelajari dan
dialami bersama (pikiran, tindakan, perasaan) dari suatu masyarakat
tertentu termasuk artefak-artefaknya, dipelajari dalam arti bahwa perilaku
tersebut disampaikan (transmitted) secara sosial, bukan diwariskan secara
genetis dan dialami bersama dalam arti dipraktekkan baik oleh seluruh
anggota masyarakat atau beberapa kelompok dalam suatu masyarakat.
Masyarakat merupakan suatu penduduk lokal yang bekerja sama dalam jangka
waktu yang lama untuk mencapai tujuan tertentu, sedangkan kebudayaan
merupakan cara hidup dari masyarakat tersebut atau hal-hal yang mereka
pikirkan, rasakan dan kerjakan. Masyarakat mungkin saja memiliki satu kebudayaan
jika masyarakat tersebut kecil, terpisah dan stabil.
3. Isi Kebudayaan
Pada dasarnya gejala kebudayaan dapat diklasifikasikan sebagai
kegiatan/aktivitas, gagasan/ide dan artefak yang diperoleh, dipelajari dan
dialami. Kebudayaan dapat diklasifikasikan atas terknologi sebagai
alat-alat yang digunakan, organisasi sosial sebagai kegiatan institusi
kebudayaan dan ideologi yang menjadi pengetahuan atas kebudayaan tersebut.
Menurut R. Linton, kebudayaan dapat diklasifikasikan atas:
1. Universals: pemikiran-pemikiran, perbuatan, perasaan dan artefak yang
dikenal bagi semua orang dewasa dalam suatu masyarakat.
2. Specialisties: gejala yang dihayati hanya oleh anggota kelompok sosial
tertentu.
3. Alternatives: gejala yang dihayati oleh sejumlah individu tertentu
seperti golongan profesi.
Kebudayaan merupakan gabungan dari keseluruhan kesatuan yang ada dan
tersusun secara unik sehingga dapat dipahami dan mengingat masyarakat
pembentuknya. Setiap kebudayaan memiliki konfigurasi yang cocok dengan
sikap-sikap dan kepercayaan dasar dari masyarakat, sehingga pada akhirnya
membentuk sistem yang interdependen, dimana koherensinya lebih dapat
dirasakan daripada dipikirkan pembentuknya. Kebudayaan dapat bersifat
sistematis sehingga dapat menjadi selektif, menciptakan dan menyesuaikan
menurut dasar-dasar dari konfigurasi tertentu. Kebudayaan akan lancar dan
berkembang apabila terciptanya suatu integrasi yang saling berhubungan.
Dalam kebudayaan terdapat subsistem yang paling penting yaitu foci yang
menjadi kumpulan pola perilaku yang menyerap banyak waktu dan tenaga.
Apabila suatu kebudayaan makin terintegrasi maka fokus tersebut akan makin
berkuasa terhadap pola perilaku dan makin berhubungan fokus tersebut satu
dengan yang lainnya dan begitu pula sebaliknya. Kebudayaan akan rusak dan
bahkan bisa hancur apabila perubahan yang terjadi terlalu dipaksakan,
sehingga tidak sesuai dengan keadaan masyarakat tempat kebudayaan tersebut
berkembang. Perubahan tersebut didorong oleh adanya tingkat integrasi yang
tinggi dalam kebudayaan. Apabila tidak terintegrasi maka kebudayaan
tersebut akan mudah menyerap serangkaian inovasi sehingga dapat
menghancurkan kebudayaan itu sendiri.
4. Sifat Kebudayaan
Kebudayaan yang berkembang pada masyarakat memiliki sifat seperti:
1. Bersifat organik dan superorganik karena berakar pada organ manusia dan
juga karena kebudayaan terus hidup melampaui generasi tertentu.
2. Bersifat terlihat (overt) dan tersembunyi (covert) terlihat dalam
tindakan dan benda, serta bersifat tersembunyi dalam aspek yang mesti diintegrasikan
oleh tiap anggotanya.
3. Bersifat eksplisit dan implisit berupa tindakan yang tergambar langsung
oleh orang yang melaksanakannya dan hal-hal yang dianggap telah diketahui
dan hal-hal tersebut tidak dapat diterangkan.
4. Bersifat ideal dan manifest berupa tindakan yang harus dilakukannya
serta tindakan-tindakan yang aktual.
5. Bersifat stabil dan berubah yang diukur melalui elemen-elemen yang
relatif stabil dan stabilitas terhadap elemen budaya.
5. Teori-teori Kebudayaan
Ada tiga pandangan tentang kebudayaan, yakni:
1. Superorganik: kebudayaan adalah realitas super dan ada di atas dan di
luar pendukung individualnya dan kebudayaan memiliki hukum-hukumnya
sendiri. Inti pandangan superorganik adalah kebudayaan merupakan sebuah
kenyataan sui generis, karena itu mesti dijelaskan dengan hukum-hukumnya
sendiri. Kebudayaan tidak mungkin diterangkan dengan menggunakan sumbernya
sebagaimana sebuah molekul dimengerti hanya dengan jumlah atom-atomnya,
sumber-sumber bisa menjelaskan bagaimanan kebudayaan muncul, tetapi bukan
kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan lebih daripada hasil kekuatan-kekuatan
sosial dan ekonomi dan kebudayaan merupakan realitas yang menyebabkannya
mungkin ada.
Pandangan superorganik mempunyai implikasi terhadap pendidikan. Yang
pertama adalah bahwa pendidikan ialah sebuah proses mengontrol manusia dan
membentuknya sesuai dengan tujuan kebudayaan. Kebijakan pendidikan
ditentukan oleh individu-individu, tetapi individu-individu hanya alat
melalui mana kekuatan-kekuatan budaya mencapai tujuannya. Jika kebudayaan
menentukan perilaku anggota-anggotanya, kurikulum mesti dikembangkan atas
kajian langsung dari keadaan kebudayaan sekarang dan masa depan. Pandangan
superorganik juga berimplikasi pada pengawasan pendidikan yang ketat dari
pemerintah untuk menjamin bahwa guru-guru menanamkan dalam diri generasi
muda atas gagasan-gagasan, sikap-sikap dan keterampilan-keterampilan yang
perlu bagi kelanjutan kebudayaan.
2. Konseptualis: kebudayaan bukanlah suatu entitas sama sekali, tetapi
sebuah konsep yang digunakan antropolog untuk menghimpun/meunifikasikan
serangkaian fakta-fakta yang terpisah-pisah. Menurut kaum konseptualis,
pada akhirnya semua kebudayaan mesti diterangkan secara sosial psikologis.
Kebudayaan bukan dihasilkan dari kekuatan super human karena kebudayaan
mendapatkan semua kualitas dari kepribadian dan interaksi dari kepribadian.
Pengikut konseptualis setuju bila anak-anak harus mempelajari warisan
budaya sesuai dengan perhatiannya. Melalui pengalamannya sendiri dengan
mengetes pengalaman belajarnya dan orang lain bila mendapat pandangan dan
hal yang objektif mengenai kebudayaan.
3. Realis: kebudayaan adalah kedua-duanya, yaitu sebuah konsep dan entitas
empiris. Kebudayaan adalah konsep dimana ia bangunan dari Antropologi dan
kebudayaan sebuah entitas empiris yang menunjukkan cara mengorganisir
fenomena-fenomena. Beberapa antropolog mempertahankan bahwa kebudayaan
merupakan konsep dan realita yang berbentuk konstruk, bukan sebagai satu
entitas yang bisa diamati tapi nyata karena tidak berbeda dalam
mengamatinya.
Menurut kaum realis terhadap pendidikan adalah dengan menanamkan
pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan tertentu yang dipilih kebudayaan
maka sistem pendidikan akan melatih individu untuk merubah kebudayaannya.
C. Transmisi Budaya dan Pendidikan
Dalam kepustakaan antropologi pendidikan ditemukan beberapa konsep yang
paling penting, yakni enculturation (pembudayaan/pewarisan), socialization
(sosialisasi/pemasyarakatan), education (pendidikan), dan schooling
(persekolahan).
Menurut Herskovits, bahwa enkilturasi berasal dari aspek-aspek dari
pengalaman belajar yang memberi ciri khusus atau yang membedakan manusia
dari makhluk lain dengan menggunakan pengalaman-pengalaman hidupnya. Proses
enkulturatif bersifat kompleks dan berlangsung hidup, tetapi proses
tersebut berbeda-beda pada berbagai tahap dalam lingkaran kehidupan
seorang. Enkulturasi terjadi secara agak dipaksakan selama awal masa
kanak-kanak tetapi ketika mereka bertambah dewasa akan belajar secara lebih
sadar untuk menerima atau menolak nilai-nilai atau anjuran-anjuran dari
masyarakatnya. Bahwa tiap anak yang baru lahir memiliki serangkaian
mekanisme biologis yang diwarisi, yang harus dirubah atau diawasi supaya
sesuai dengan budaya masyarakatnya.
Kesamaan dari konsep enkulturasi dengan konsep sosialisasi terlihat dari
pernyataan Herkovits yang mengatakan bahwa sosialisasi menunjukkan proses
pengintegrasi individu ke dalam sebuah kelompok sosial, sedangkan
enkulturasi adalah proses yang menyebabkan individu memperoleh kompetensi
dalam kebudayaan kelompok.
Menurut Hansen, enkulturasi mencakup proses perolehan keterampilan
bertingkah laku, pengetahuan tentang standar-standar budaya, dan kode-kode
perlambangan seperti bahasa dan seni, motivasi yang didukung oleh
kebudayaan, kebiasaan-kebiasaan menanggapi, ideologi dan sikap-sikap.
Sedangkan sosialisasi menurut Gillin dan Gillin adalah proses yang membawa
individu dapat menjadi anggota yang fungsional dari suatu kelompok, yang
bertingkah laku menurut standar-standar kelompok, mengikuti
kebiasaan-kebiasaan kelompok , mengamalkan tradisi kelompok dan
menyesuaikan dirinya dengan situasi-situasi sosial yang ditemuinya untuk
mendapatkan penerimaan yang baik dari teman-teman sekelompoknya.
Bagi Herskovits, pendidikan (education) adalah ”directed learning” dan
persekolahan (schooling) adalah “formalized learning”. Dalam literature
pendidikan dewasa ini dikenal istilah pendidikan formal, informal dan
non-formal. Pendidikan formal adalah system pendidikan yang disusun secara
hierarkis dan berjenjang secara kronologi mulai dari sekolah dasar sampai
ke universitas dan disamping pendidikan akademis umum termasuk pula
bermacam-macam program dan lembaga untuk pendidikan kejuruan teknik dan
profesional.
Pendidikan informal adalah pendidikan seumur hidup yang memungkinkan
individu memperoleh sikap-sikap, nilai-nilai, keterampilan-keterampilan dan
pengaruh-pengaruh yang ada di lingkungannya dari keluarga, tetangga. Label
informal berasal dari kenyataan bahwa tipe proses belajarnya bersifat tidak
terorganisasi dan tidak tersistematis. Pendidikan informal biasanya
dilaksanakan dalam masyarakat sederhana dimana belum ada sekolah.
Karangan Margared Mead mengenai pendidikan dalam masyarakat sederhana
(1942), dimana ia membedakan antara learning cultures dan teaching cultures
atau kebudayaan belajar dan kebudayaan mengajar. Dalam golongan yang
pertama, warga masyarakatnya belajar dengan cara yang tidak resmi yaitu
dengan berperan serta dalam kehidupan rutin sehari-hari. Dimana mereka
memperoleh segala pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang mereka
perlukan untk dapat hidup dengan layak dalam masyarakat dan kebudayaan
mereka sendiri. Dalam golongan yang kedua, warga masyarakat mendapat
pelajaran dari warga-warga lain yang lebih tahu, yang seringkali dilakukan
dalam pranata-pranata pendidikan yang resmi, dimana mereka memperoleh
segala pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang mereka perlukan.
Pendidikan non-formal merupakan kegiatan terorganisasi di luar kerangka
sekolah formal atau sistem universitas yang ada yang bertujuan untuk
mengkomunikasikan gagasan-gagasan tertentu, pengetahuan, sikap-sikap.
Pendidikan non-formal memusatkan perhatian kepada perbaikan kehidupan
sosial dan kemampuan dalam pekerjaan. Pendidikan non-formal lebih
berorientasi terhadap menolong individu-individu memecahkan masalah mereka,
bukan pada penyerapan isi kurikulum tertentu. Pengajaran dilakukan melalui
kerjasama dengan guru, umpamanya dengan pekerja-pekerja ahli, pekerja
sosial, penyuluh pertanian, dan petugas kesehatan.
D. Pendidikan Adalah Kebudayaan : Renungan Leo Tolstoy
Persoalan pendidikan yang rumit memicu berbagai tingkat dalam berbagai cara
, pentingnya masalah pendidikan hingga para filsuf pertama mengembangkan
teori-teori formal yang mengkaitkan pendidikan dengan konsepsi politik
serta hakikat manusia, ditingkat yang kurang formal orang tua bertanggung
jawab mengembangkan prinsip pengasuhan anak dalam masyarakat serta
nilai-nilai anak dimasa depan sebagai individu dan warganegara
Kedua masalah ini mempunyai konflik yang khusus di masyarakat yang kompleks
menuntut cara-cara formal untuk menyalurkan perbaharuan tentang kebudayaan
serta pentingnya meneliti fungsi pendidikan dalam kebudayaan. Asumsi ini
muncul karena frustasi Tolstoy yang menjangkit di dunia pendidikan secara
objektif, Tolstoy melihat usaha pendidikan berlangsung secara otomatis yang
terlihat dengan tidak mempedulikan sasaran-sasaran serta tujuan-tujuan yang
sejati yang terbelenggu oleh pemikiran-pemikiran dan tata cara tradisional,
seorang murid telah diabaikan sebagai faktor dalam pemikiran tentang
pendidikan. Kegagalan mengenali fakta pokok ini menyuburkan
penyimpangan-penyimpangan dan kesalahan konsep yang menjamin kegagalan
pendidikan.
Asumsi plato sama dengan yang dirasakan Tolstoy yang menyaksikan penyia-nyiaan
bakat serta kurangnya kreatifitas kaum muda dimasyarakat Atena. Hal serupa
juga sama yang menyerupai asumsi Jean-Jacques Rousseau yang merasa dirinya
harus mencari pandang sepenuhnya baru dan segar untuk menatap keseluruhan
proses pendidikan serta nalar yang mendasarinya. John Dewey juga mengajukan
pedagogi baru yang didasari psikologi yang nalar. Pandangan Tolstoy tidak
tuntas karena lebih menyinarkan akal sehat romantis pragmatis, ad bock atau
anti teoritis. Tolstoy mengungkapkan renungan yang cukup mendalam bagaimana
seharusnya kita berkarya. Asumsi Tolstoy memakai dua sumber konsepsi
philosofisnya tentang kehidupan secara umum dan kesenian secara khusus
serta pengalaman praktis yang ia dapatkan dari sekolah anak-anak tani yang
didirikannya. Di Yasno-Polyana pengaruh dua sumber ini saling berkaitan
anatara satu dengan yang lainnya. Tolstoy memakai anekdok percakapannya
dengan salah seorang murid, Fedka tentang hubungan antara seni dengan
kebudayaan sebagai titik tolak pengantar karya besarnya dibidang estetika.
Pandangan Tolstoy tentangan kehidupan bersifat romantis yang menekankan
pentingnya roh manusia yang bebas dihidupkan oleh Tuhan dan diarahkan oleh
minat, emosi serta hasrat pribadi. Pandangan Tolstoy sama dengan Rousseau
tetapi Tolstoy tetap mengkritik yang pedas terhadap Rousseau dan menolak
gagasan-gagasan pendidikan Rousseau. Orang menganggap Rousseau sebagai
“sibiang onar”, yang memuja-muja manusia tak beradap dan luhur. Tolstoy
memahi adanya prinsip lain yang dominan terhadap pemikiran Rousseau
misalnya dalam kontrak sosial kita temukan konsepsi Rosseau tentang
kebebasan sosial yang bersemi dari suatu folonte general atau
anti-individualistik menurutnya masyarakat ideal mempunyai tujuan untuk
mencapai keseimbangan terhadap penekanan individualitas keotoritas sosial
yang bernuansa platonic. Asumsi ini yang ditolak oleh Tolstoy menurutnya
kebebasan individual merupaka suatu titik tolak yang positif
Gaya penulis Tolstoy luwes nyastra, tidak terikat logika, serta bersifat
sentimental, ironis dan sarkastis yang penuh dengan paradoks, dan
pernyataan-pernyataan yang bersifat impresionistik yang sangat tajam
tentang pendidikan, menurutnya pendidikan mempunyai empat unsur pokok
diantaranya
1. Guru yang merupakan agen utama yang bertujuan mengarahkan dan memikiul
tanggung jawab terhadap proses pendidikan.
2. Murid yang menjadi objek upaya pendidikan, yang perilakunya diubah dan
dimodifikasi.
3. Bahan pengajaran pengertahuan yang ditanamakan kepada murid
4. Tujuan, sasaran, cita-cita dan hasil akhir yang diharapkan dari proses
pendidikan akhir.
Pemahaman ini merupakan kritikan Tolstoy tentang pendidikan yang ada di
Rusia. Ia juga mengkritik tentang pendidikan yang ada di Eropa dan Amerika,
baik pendidikan klasik maupun pendidikan yang berkembang pada masa Tolstoy.
Menurut Aristoteles Sasaran pendidikan adalah untuk mencapai kehidupan yang
baik. Berbeda dengan asumsi dari Tolstoy yang beranggapan bahwa pendidikan
tidak punya sasaran, tujuan dari pendidikan berasal dari proses pendidikan
itu sendiri atau disebut dengan pemahaman. Konsep utama menurutnya adalah
kebudayaan yang merupakan nilai-nilai masyarakat yang maju yang tetap
bertahan meski di cam dengan kritikan-kritikan dan dijadikan sebagai
klaim-klaim yang saling bertentangan, kebudayaan tampil sebagai lumbung dan
nilai-nilai yang besar
Rousseau menganggap pendidikan merupakan jalan pembebasan-pembebasan
individu dari prasangka-prasangka. Tolstoy tetap tidak setuju dengan
pendapat Rousseau, ia tidak menyangkal pentingnya nilai-nilai yang Utilitarian
yang tidak sengaja timbul dari pendidikan, tapi dia juga menyetujui bahwa
pendidikan merupakan proses membebaskan individu agar berimprovisasi secara
kreatif melalui pemahaman.
Tolstoy mendekati pendidikan tanpa akhir dan kepastian, menurutnya kebudayaan
dijelaskan dengan berbagai konsep. Menurutnya kebudayaan merupakan sebuah
prinsip liberar humanistic yang menjelaskan kesetaraan semua manusia dan
pentingnya realisasi diri yang tidak mempunyai arah yang pasti bagi
kegiatan manusia. Dia melihat ketidak pastian tentang prinsip ini.
Hendaknya kita tidak melihat kembali mengenai prinsip pendidikan yang
mengarah kepada nilai-nilai tradisional, tapi kita melihat semangat dari
kebebasan manusia individu tentang pendidikan yang mempunyai arah sendiri,
konsep ini merupakan konsep radikal yang merupakan titik tolak pendidik
pragmatis Amerika, tujuan pendidikan dalam pandangan ini dikebumikan
menjadi kegiatan yang mempunyai tujuan pragtis yang memiliki dampak yang
jelas yang sangat bergantung pada akal sehat
Tugas-tugas pokok guru adalah mencari cara bagaimana menjadikan pengetahuan
atau bahan pelajaran pendidikan bermakna bagi murid sehingga persekolahan
bermakna bagi siswa. Kebanyakan teori pendidikan menyerahkan tugas-ugas
pada guru, tapi dalam skema pendidikan Tolstoy setiap tugas tersebut
mempunyai arti khusus, karena ia menolak bahwa belajar merupakan suatu hal
yang wajib yang ditanamkan diluar individu atas dasar takut akan hukuman.
Seorang guru menurut Tolstoy dapat memutuskan metoda apa yang dipakai untuk
mengajarkan bahan-bahannya, dan mengambil keputusan tentang apa yang akan
diajarkan. Teori pendidikan yang konfensional yang lain tidak memberi peran
sebesar ini pada guru menurutnya guru tidak hanya mengajarkan bahan-bahan
secara tradisional yang telah diketahuinya tapi seorang guru dituntut
memahami nilai-nilai masyarakat pada saat proses belajar berlangsung.
Menurut Tolstoy guru merupakan seorang seniman yang mandiri dan kreatif
yang merangsang murid-murid untuk memahami aspek-aspek kebudayaan yang
dianggap bernilai. Seorang guru diberikan kebebasan yang luar biasa
terhadap nilai. Tugas pendidik bukan hanya menyiapkan kurikulum yang
mencerminkan kebudayaan semu yang dijalin dengan prasangka atau
konsepsi-konsepsi arti fisial para teoritisi yang bersifat abstrak. Seorang
guru harus memahami dunia nyata, kebudayaannya serta menyiapkan murid agar
tumbuh dan berkembang didalamnya. Menurutnya pendidikan konfenisonal gagal
menjalankan tugas itu karena kehilangan asumsi yang terkait timbal balik
antara sekolah dengan kehidupan sehingga pendidikan tidak efektif. Bidang
studi termasuk modus penyelidikan terkait seorang guru harus memahami apa
yang diajarkan dengan disiplin kejujuran intelektual serta ketangguhan
logika.
Pusat dari proses pendidikan yang fital adalah keterlibatan dinamis setiap
murid secara individu sesuai dengan aspek-aspek tertentu dan pemahaman
kebudayaan melalui arahan seorang guru yang memusatkan pada aspek-aspek
bidang studi yang dianggap paling berharga. Tidak ada bidang studi yang
diskralkan dan harus dipelajari oleh semua murid. Yang harus ditanamkan
adalah keterampilan dan kepekaan terhadap bidang studi. Menurut Tolstoy
pengetahuan ilmiah merupakan suatu hal yang terpadu. Ilmu pengetahuan sama
dengan kebudayaan dimana kebudayaan diambil dan disederhanakan. Tiap
disiplin akademik bisa menjadi jalan untuk memahami konsep kebudayaan.
Gagasan Tolstoy tentang psikologi murid menurutnya seorang murid merupakan
pribadi yang berusia muda yang mempunyai keresahan, ketakutan serta
keingintahuaan keintelektulan dan imajinasi yang tidak terbatas.
Ada dua cara pengarahan pendidikan menurut psikologi anak yang pertama
menimbulkan semangat, minat anak yang di didik. Yang kedua seorang guru
memberikan motif-motif yang efektif untuk mengajak anak agar belajar.
Sekolah harus mengikuti alur motif-motif ini. Metode ini diterapkan sebagai
keyakinan-keyakinan yang bersifat pribadi. Contoh ini mengalami kegagalan
tapi ia mencoba mencari metode yang tepat.
Contoh yang diajukan dalam perjalanan mengembangkan pendidikan yang
bersifat permisif ekstrim tidak hanya dalam teknik pengajarannya tapi juga
pengorganisasian bidang studinya dan prinsip-prinsip pendisiplinannya.
Para murid dan guru yang ada disekolah Tolstoy mempunyai kebebasan untuk
tidak belajar dan mengajar. Menurutnya peran utama guru adalah sebagai
pendengar lalu memodifikasi apa yang didengarnya. Tidak ada silabus dan
batasan belajar yang harus ditaati. Kita dapat melihat pandangan Tolstoy
yang tidak logis tapi ada konsitensi yang menyatukan pandangan itu yaitu
yang diarahkan kepada pembebasan murid. Ada keterkaitan antara tujuan
pendidikan, peran guru, metoda pengajaran, konsepsi tentang murid serta
tata cara yang diharapkan bisa merangsang murid untuk memulai pemikirannya
sendiri.
Dari asumsi yang telah diterangkan oleh Leo Tolstoy jelas disini bahwa dia
adalah seorang teoritikus pendidikan. Dia tidak mempunyai doktrin yang
saling terkait secara logis. Dijelaskan bahwa pandangan dari Tolstoy
memaparkan terhadap anti teori. Tetapi ada aspek-aspek pemikirannya yang
muncul kembali dalam pemikiran Dewey. Diantara kritik-kritik Tolstoy
dipakai pada abad ke-19 tentang kemampuan mencapai kesempurnaan yang tidak
terbatas secara otomatis. Bagi Tolstoy pendidikan yang bebas tidak harus
diartikan sebagai kehidupan tanpa pendidikan sama sekali. Tolstoy ingin
agar diterimanya sebuah tanggung jawab untuk mendidik yang menekankan
faktor lingkungan sosial dalam pendidikan. Hal ini juga dipakai oleh para
pemikir modern begitu juga para teoritisi zaman sekarang memakai pemikiran
Tolstoy tentang pentingnya motifasi intrinsik murid yang berasal
kebutuhan-kebutuhannya sendiri.
Tolstoy tidak hanya mereformasikan pendidikan tapi ia juga ingin membangun
konsepsi baru yang segar mengenai masyarakat serta nilai individu yang ada
didalamnya, baginya teori pendidikan adalah usaha yang memberikan nalar
bukan nalar yang mendasari pendidikan, teori pendidikan dianggapnya
jaringan-jaringan pernyataan yang membenarkan diri serta menjalankan sebuah
system yang masih dangkal, menurutnya pendekatan baru harus didasarkan pada
renungan-renungan, analogi, pengamatan dengan kesadaran eksistensial bukan
berdasarkan pernyataan-pernyataan ilmiah tertata atau logis
Pendekatannya yang romantik, dan penuh renungan pandanagnnya tentang
pendidikan bukan ilogis bertentangan dengan logika, tapi lebih sering
non-logis , tidak mengikuti alur logika yang dicarinyta bukan system
pemikiran koheren melainkan renungan kedalam pendidikan. Salah satu akibat
pemikiranya terjadinya kesimpangsiurandefenisi istilah pokok tentang
pendidkan, instruksi pengajaran, kebudayaan, pedalogi dan ilmu pengetahuan
yang dipakai berulangulang tanpa ada penjelasan sama sekali, hal ini
membuat para analis modern marah membaca karyanya , tapi akhirnya mereka
sadar bahwa Tolstoy adalah seorang penyair yang mencari panangan baru yang
lebih mendalam tentang pendidikan
Filsuf Alfred North whitehead dalam renunganya tentang pendidikan yang sama
dengan Tolstoy yaitu tentang menyikapi keterkaitan timbale balik antara
cara dengan tujuan dalam pendidikan, ia menunjukan kemampuan
pembedaan-pembedaan yang logis konvensional dan menelusuri jalur baru
mengenai tujuan dan sasaran dalam pendidikan, gagasanya akhirnya dipetik
oleh teoritisi dan dimasukan pada teori-teori progesif baru di dukung oleh
bukti-bukti dari ilmu-ilmu social yang baru berkembang.
Kesimpulanya teori pendidikan Tolstoy adalah heuristic, yang merangsang
pembaca untuk menyelidiki, berfikir, menata diri sendiri, ia menentang kita
memakai sudut pandang yang betul-betul baru. Pendekatan yang di gunakan
tidak katalistik. Ia hanya menyarankan arah-arah yang positif bagi
reformasi pendidikan serta menawarkan dasar-dasar baru untuk menetapkan
prioritas pendidikan.
|