Minggu, 14 Mei 2017

Krisis education

KRISIS PENDIDIKAN ISLAM

Krisis Paradigmatik

Memudarnya kecemerlangan pendidikan Islam (the decline of Islamic learning) sesungguhnya sudah terjadi sejak ratusan tahun yang silam. Salah satu sebab utama layunya intelektualisme Islam adalah saat dunia pendidikan Islam terjadi dikotomi keilmuan; terbelahnya ilmu agama (‘ilmu diniyah) dengan ilmu dunia (‘ilmu dunya), dikotomi antara wahyu dan alam, serta dikotomi antara wahyu dan aqal. Dikotomi yang pertama telah melanggengkan supremasi ilmu-ilmu gama yang berjalan secara monotonik, dikotomi kedua telah menyebabkan kemiskinan penelitian empiris dalam pendidikan Islam, serta dikotomi yang terakhir telah menjauhkan filsafat dari pendidikan Islam

Dunia pendidikan Islam terjebak pada simtom dikotomik yang sangat parah: ’sekularisasi’ dan ’sakralisasi’ pendidikan. Sekularisasi bermakna bahwa pendidikan telah melepaskan dirinya dari agama. Agama diartikan sebagai sesuatu yang ’hanya’ berhubungan dengan maslalah ibadah ritual, ataupun hal-hal yang berkaitan dengan urusan-urusan mu’amalah terbatas seperti nikah, talak, rujuk, warisan, dan pengurusan jenazah (mayyit). Agama tidak ada hubungannya dengan sains, teknologi, terlebih lagi kepada ilmu sosial, hukum, politik, budaya. Sedangkan pada sekolah-sekolah agama (madrasah ataupun pesantren), pendidikan terlalu asyik dengan kajian-kajian ’kitab kuning’ (ajaran Islam klasik yang membahas fiqh, hadis ataupun tafsir) tanpa peduli dengan perkembangan zaman, kemajuan sains dan teknologi yang sesungguhnya relevan untuk diketahui, difahami bahkan dikuasai. Alhasil, “Islam” hanya diartikan sebatas “agama”, yang maknanya terbatas pada lingkup ritual (tanasuk) ibadah, jenazah, nikah-talak-rujuk, warisan dan hal-hal yang berkait dengan urusan ghaib/kehidupan akhirat. Islam hanyalah sebuah “agama”, bukan “adDin” yang makna hakikinya melingkupi seluruh aturan hidup dan kehidupan (minhajul hayah). Dengan cara pandang seperti itu, wajarlah kalau kemudian pendidikan Islam pun terjebak ke dalam lingkup yang sempit dan “lepas” dalam segala urusan memakmurkan dunia.

Krisis Visi dan Arah

Pendidikan Islam mengalami krisis visi dalam pengertian bahwa kebanyakan lembaga pendidikan islam tidak mampu merumuskan/menetapkan visi dan arah pendidikannya dengan apa yang secara hakiki menjadi tujuan pendidikan yang diinginkan oleh Islam itu sendiri. Lembaga Pendidikan Islam lebih banyak menjadikan “Islam” sebagai obyek bahasan, bukan menjadikan Islam sebagai “way of life” (Minhajul hayah). Padahal, sudah pasti, lulusan mereka akan menghadapi segala problematika kehidupan yang sarat dengan tantangan-tantangan zaman, yang membutuhkan penyikapan yang jelas, terarah dan efektif. Ketertinggalan ummat Islam dalam sains dan teknologi, kurang peduli terhadap pemeliharaan lingkungan, ketidak-berdayaan dalam menghadapi aneka virus, bakteri dan hama yang mendatangkan penyakit (baik kepada manusia, hewan ataupun tanaman) yang kemudian menyebabkan terpinggirkannya eksistensi ummat di panggung dunia merupakan contoh nyata dan jelas dalam hal ini.

Krisis Pengembangan

Pendidikan Islam (di Indonesia) jalan di tempat. Setelah lewat masa puluhan tahun, lembaga-lembaga pendidikan Islam tidak menunjukkan kemajuan kinerjanya yang berarti. Sebagai contoh, gerakan pembaruan pendidikan Islam yang dilakukan organisasi Muhammadiyah lebih banyak menekankan pada aspek kuantitatif, belum menajam pada aspek pembangunan mutu (kualitatif). Dari berbagai tolok ukur (fasilitas, manajemen, sdm, kurikulum), rata-rata pendidikan Islam belum duduk dalam barisan “papan atas”. Pendidikan Islam mengalami kekurangan sumberdaya manusia, sumberdaya pemikiran, sumber daya dana, sumber-sumber belajar. Pendidikan Islam kurang didukung oleh riset dan pengembangan yang berkelanjutan, baik yang dilakukan oleh individu masyarakat ataupun oleh pemerintah. Hasilnya, model pengelolaan institusi dan pendekatan pembelajaran tidak mengalami perkembangan yang berarti.

Boleh jadi, krisis pengembangan ini diakibatkan pula oleh lemahnya komitmen dan alokasi pendanaan bagi kemajuan pendidikan Islam. Sedikit pihak penyandang dana (baik dari APBN, dari masyarakat, ataupun dari) anggaran belanja Negara

Krisis Proses dan pendekatan pembelajaran

Pada sisi lain, pendidikan Islam telah kehilangan substansinya sebagai sebuah lembaga yang mengajarkan bagaimana memberdayakan aqal dan fikiran. Meminjam istilah Syed Husein Al Attas, pendidikan Islam telah kehilangan ”Spirit of inquiry” yaitu hilangya semangat membaca dan meneliti yang dulu menjadi supremasi utama dunia pendidikan Islam pada zaman klasik pertengahan. Dengan hilangnya semangat ’inquiry’, kegiatan mengajar dan belajar di sekolah-sekolah/madrasah Islam/pesantren menjadi monoton, satu arah dan kurang mampu mengembangkan metode yang melatih dan memberdayakan kemampuan belajar murid. Mereka hanya terpaku pada metode ’menghafal” (rote learning), menyimak dengan seksama (talaqqi), dan sangat kurang mengembangkan budaya diskusi, seminar, bedah kasus, problem solving, eksperimen, observasi, dan sebagainya. Murid menjadi kurang terampil dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan.

Krisis pengelolaan (manajemen)

Sudah menjadi pengetahuan publik, lembaga pendidikan Islam seringkali di kelola tanpa dukungan manajemen yang handal. Kebanyakan lembaga pendidikan malah berada dalam “kerajaan” para kiyai ataupun yayasan keluarga yang dalam penyelenggaraanna seringkali mengabaikan prinsip-prinsip dasar manajemen. Alih-alih menerapkan standar proses berbasis ISO, ataupun pendekatan TQM yang berorientasi pada mutu, ataupun mencanangkan manajemen strategis yang mengarahkan pada perencanaan jangka panjang (visioner), membuat rencana jangka pendek pun seringkali diabaikan.

Krisis Komunikasi

Lembaga pendidikan Islam masing-masing berjalan sendiri. Mereka hanya berkomunikasi dengan sesamanya, tetapi kurang mengembangkan jalinan kerjasama kepada lembaga-lembaga pendidikan lainnya, apalagi ke lembaga pendidikan di mancanegara. Kalaupun ada, komunikasi berjalan tidak dalam kerangka membangun kerjasama peningkatan mutu. Dengan kondisi yang demikian, lembaga-lembaga pendidikan Islam agak lamban dalam merespons perkembangan kemajuan di dunia pendidikan.

SOLUSI STRATEGIS

Kenyataan yang tak dapat dipungkiri, pendidikan Islam di negeri ini belum mampu menunjukkan jati dirinya. Masyarakat masih melihat dan menilai pendidikan Islam dengan “sebelah mata”. Perlu dilakukan gerakan pembaharuan pendidikan Islam melalui langkah-langkah strategis berikut:

1. Membangun Paradigma Pendidikan Islam yang sebenarnya

Melakukan kajian yang mendalam untuk membangun kembali paradigma pendidikan Islam sesuai dengan semangat ’ruhul Islam’ yang sebenarnya. Pendidikan Islam yang berpijak kepada Al Qur’an dan AsSunnah. Pikiran-pikiran yang perlu ditegaskan antara lain:

a. Paradigma ‘lmullah sebagai obyek bahasan

Pendidikan Islam harus berpijak kepada pandangan bahwa Allah SWT menurunkan ‘ayat dan ‘ilmu Nya melalui dua jalur: jalur formal melalui prosedur Allah – malaikat – Rasul; yang disebut sebagai ‘ayatul qauliyah (Wahyu, AlQur’an), dan ayatul kauniyah (alam semesta). Ayat qauliyah menjadi petunjuk dan pedoman (minhajul ayah), sedangkan ayatul kauniyah menjadi fasilitas, sarana kehidupan (wasailul hayah). Lihat bagan berikut:


















Dengan paradigma sebagaimana tergambar di atas, dalam pendidikan Islam tidak akan mengalami disintegrasi ataupun dikotomik. Semua obyek bahasan (dalam kurikulum) dipandang sebagai ‘ilmu Allah yang harus dipelajari untuk mendapatkan bekalan Petunjuk Hidup (mempelajari ‘ayatul qauliyah) dan mendapatkan bekalan untuk memperoleh fasilitas hidup (mempelajari ilmu kauniyah). Bila paradigma tadi dilihat dalam konteks kurikulum, Ali Maksum & Luluk Yunan Ruhendi (2005) menggambarkannya sebagai berikut[15]:

A = Integrasi Sains Islami

B = Spesialisasi Ilmu

Implikasi praksis dari paradigma ‘IlmuLlah adalah, bahwa ummat Islam akan menyadari dengan sepenuhnya bahwa mereka harus mempelajari dan menekuni seluruh ‘ilmu Allah dalam upaya meraih kejayaan dunia dan akhirat. ‘Ilmu-ilmu umum’ yang selama ini dianggap sebagai ‘pendidikan umum”, niscaya akan berubah menjadi pendidikan (yang diperintahkan oleh) Islam juga.

b. Paradigma holistik-integralistik

Proses pendidikan Islam harus berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya. Oleh karena itu, materi pendidikan Islam mengandung kesatuan pendidikan jasmani-ruhani, mengasah kecerdasan inetelektual, emosional dan spiritual, kesatuan pendidikan teoritis dan praktis, kesatuan pendidikan individu-sosial, dan kesatuan materi pendidikan keagamaan (diniyah), filsafat, etika dan estetika (akhlak) . Evaluasi pendidikan islam juga dilakukan dalam kerangka kesatuan pengetahuan, sikap dan perilaku.

2. Membangun Model Lembaga Pendidikan Islam yang ideal

Perlu ada model sekolah/lembaga pendidikan Islam yang dibangun dengan format yang ideal. Boleh jadi ada satu sekolah yang memiliki satu atau dua keunggulan, sementara sekolah lain memiliki keunggulan pada aspek lainnya. Sekolah-sekolah model inilah yang kemudian dapat dijadikan contoh yang dapat ditiru oleh sekolah-sekolah Islam lainnya. Setidaknya kita berharap akan menemukan lembaga pendidikan Islam yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Mengusung nilai dan pesan Islam sebagai ruh dalam setiap kegiatan sekolah. Seluruh dimensi kegiatan sekolah senantiasa bernafaskan semangat nilai dan pesan-pesan Islam. Adab dan etika pergaulan seluruh waga sekolah dan lingkungannya, tata tertib dan aturan, penataan lingkungan, pemfungsian mesjid, aktivitas belajar mengajar, berbagai kegiatan sekolah baik reguler ataupun non reguler semuanya mencerminkan realisasi dari ajaran Islam.

b. Mengintegrasikan nilai kauniyah dan qauliyah dalam bangunan kurikulum. Seluruh bidang ajar dalam bangunan kurikulum dikembangkan melalui perpaduan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam Al Qur’an dan asSunnah dengan nilai-nilai ilmu pengetahuan umum yang diajarkan. Artinya, ketika guru hendak mengajarkan ilmu pengetahuan umum semestinya ilmu pengetahuan tersebut sudah dikemas dengan perspektif bagaimana AlQur’an/AsSunnah membahasnya. Dengan demikian tidak ada lagi ambivalensi ataupun dikotomi ilmu.

c. Menerapkan dan mengembangkan metode pembelajaran untuk mencapai optimalisasi proses belajar mengajar. Pendekatan pembelajaran mengacu kepada prinsip-prinsip belajar, azas-azas psikologi pendidikan serta perkembangan kemajuan teknologi instruksional. Menggunakan kemampuan dan keterampilan berfikir yang kaya seperti: berfikir kritis, kreatif, analitis, induktif, deduktif, problem solving melalui berbagai macam pendekatan pembelajaran. Penggunaan sumber, media dan peraga dalam kegiatan belajar merupakan bagian dari upaya memunculkan suasana belajar yang stimulatif, motivatif dan fasilitatif. Pembelajaran harus lebih diarahkan pada pada proses learning yang produktif, ketimbang proses teaching. Peserta didik diarahkan dan difasililitasi untuk mampu mendaya-gunakan kemampuannya sebagai pembelajar yang terampil dan produktif.

d. Mengedepankan qudwah hasanah dalam membentuk karakter peserta didik. Seluruh tenaga kependidikan (baik guru maupun karyawan sekolah) mesti menjadi figure contoh bagi peserta didik. Keteladan akan sangat berpangaruh terhadap hasil belajar. Dan kualitas hasil belajar sangat dipengaruhi kualitas keteladanan yang ditunjukkan oleh tenaga kependidikan.

e. Menumbuhkan biah solihah dalam iklim dan lingkungan sekolah: Lingkungan sekolah harus marak dan ramai dengan segala kegiatan dan perilaku yang terpuji seperti: terbiasa dengan menghidupkan ibadah dan sunnah, menebar salam, saling hormat-menghormati dan menyayangi dan melindungi, bersih dan rapih. Di sisi lain lingkungan sekolah juga harus terbebas dari segala perilaku yang tercela seperti umpatan, makina, kata-kata yang kotor dan kasar, iri, hasad dan dengki, konflik berkepanjangan, kotor dan berantakan, egois, ghibah.

f. Melibatkan peranserta orangtua dan masyarakat dalam mendukung tercapainya tujuan pendidikan. Ada kerjasama yang sistematis dan efektif antara guru dan orangtua dalam mengembangkan dan memperkaya kegiatan pendidikan dalam berbagai aneka program. Guru dan orangtua saling bahu-membahu dalam memajukan kualitas sekolah. Orangtua harus ikut secara aktif memberikan dorongan dan bantuan baik secara individual kepada putera-puterinya maupun kesertaan mereka terlibat di dalam sekolah dalam serangkaian program yang sistematis. Keterlibatan orangtua memberikan pengaruh yang sangat signifikan dalam meningkatkan performance sekolah.

g. Menjamin seluruh proses kegiatan sekolah untuk selalu berorientasi pada mutu. Ada system manajemen mutu terpadu yang mampu menjamin kepastian kualitas penyelenggaraan sekolah. Sistem dibangun berdasarkan standar mutu yang dikenal, diterima dan diakui oleh masyarakat.

3. Memperkaya Kurikulum PAI yang berwawasan: perjuangan, kebangsaan, global, iptek, demokratis, pluralis,.

Pelajaran Agama Islam bukan semata mempelajari materi-materi Islam dalam konteksnya sebagai ’ulum syar’iyah (Fiqh, Ibadah, Akhlaq, Aqidah) , melainkan diposisikan sebagai pelajaran agama yang memberikan kerangka pengetahuan, sikap dan perilaku yang sangat relevan dan dibutuhkan dalam konteks kehidupan masa kini. PAI berwawasan perjuangan berarti menegaskan pentingnya semangat juang yang tinggi untuk membela kebenaran, keadilan, kezhaliman, kemunkaran sebagaimana yang banyak dipesankan oleh AlQur’anul Karim. PAI berwawasan kebangsaan berarti, di dalamnya juga terkandung muatan nilai-nilai cinta dan bela tanah air, selalu peduli akan kejayaan dan kemakmuran bangsa dan negara. PAI berwawasan global berarti menjadikan Islam agama yang mampu memberikan perspektif, arahan dan bekalan dalam kehidupan global yang sangat syarat dengan kemajuan sains dan teknologi yang berimplikasi luas bagi kehidupan antar manusia (mu’amalah). PAI berwawasan iptek berarti memberi kerangka yang tepat bagi pengembangan dan penggunaan iptek untuk kemaslahatan kehidupan (wasailul hayah), yang implikasinya adalah PAI yang seimbang antara aspek fikr dan dzikr; memicu dan memacu peserta didik, untuk berfikir keras dan mendalam tentang alam. PAI berwawasan demokratis menekankan kepada inti dari demokrasi itu sendiri yaitu: penghargaan dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, yang sungguh sangat dijamin dalam ajaran Islam. PAI berwawasan pluralis berarti menjelaskan bahwa Islam menerima (toleran) terhadap berbagai keragaman etnis, budaya, bangsa dan agama sebagai suatu realita kehidupan, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip aqidah yang sudah jelas, tegas dan final (qoth’i)[18].

4. Membangun Jaringan Lokal dan Global dgn sesama lembaga pendidikan Islam

Percepatan kemajuan lembaga pendidikan Islam sangat ditentukan oleh kemampuan mereka dalam membangun kerjasama. Diperlukan networking

yang efektif yang dapat memainkan peranan dalam:

* Meningkatkan mutu dan intensitas komunikasi virtual sehingga terjadi sharing (berbagi): masalah, penglaman, infromasi, sumber (resources), kerjasama melalui media milis, website, sms.
* Menggalakkan kerjasama peningkatan mutu penyelenggaraan antar jaringan sekolah pada regional/wilayah terjangkau sehingga terjadi percepatan pertumbuhan dan perkembangan mutu sekolah. Contoh: - kelompok kerja profesional (kepala sekolah, guru bidang studi, walikelas, kepala tata usaha)
* Menggalakkan kompetisi yang sehat (fastabiqul khoyrot) untuk memacu dan memicu motivasi berkarya, mengembangkan inovasi dan prestasi melalui serangkaian lomba: olimpiade mata pelajaran,
* Menggalakkan kompetisi yang sehat (fastabiqul khoyrot) untuk memacu dan memicu motivasi berkarya, mengembangkan inovasi dan prestasi melalui serangkaian lomba: olimpiade mata pelajaran, karya kreasi guru, sekolah asri, dsb.
* Menyelenggarakan kegiatan siswa bersama: jambore, ekshibisi, study tour, pertukaran siswa

5. Menjalin kemitraan dengan industri, institusi dan pusat-pusat iptek, budaya dan ekonomi

Mendekatkan dunia pendidikan Islam dengan dunia nyata dan kongkrit merupakan salah satu upaya yang sangat berarti. Dengan jalinan kerjasama dan kemitraan yang efektif kepada industri, institusi atau lembaga-lembaga iptek, budaya ataupun lembaga ekonomi, bahkan instansi militer akan memperkaya dan memperluas sumber belajar. Jalinan kemitraan ini akan menutupi banyak kelemahan dan kekurangan sumber daya yang dimiliki lembaga pendidikan Islam. Pendidikan sains akan sangat efektif ketika peserta didik mendapatkan pengalaman nyata dan langsung di pusat-pusat penelitian dan pengembangan seperti LIPI, BPPT, Puspiptek Serpong. Wawasan HAM, Demokrasi ataupun Politik dapat dipelajari langsung di lembaga-lembaga Negara, partai politik, LSM dan sebagainya. Demikian pula pada upaya peningkatan mutu pembelajaran social, ekonomi, budaya, hukum bahkan agama dapat diperkaya dengan pendekatan “experience learning” ke sentra-sentra kegiatan nyata di tengah-tengah masyarakat.

6. Membuat pusat pengembangan guru

Guru adalah tulang punggung pendidikan. Oleh karenanya, mutu guru harus mendapatkan kepastian dan jaminan akan kompetensi profesionalnya. Membangun pusat-pusat pelatihan dan pengembangan mutu guru sangat membantu menyediakan tenaga-tenaga kependidikan yang handal. Selain itu, dengan adanya pusat-pusat pengembangan mutu guru akan memfasilitasi terjadinya tukar pengalaman dan salimng share berbagai ide dan gagasan.

7. Benchmarking dengan world class school

Menjadikan sekolah kelas dunia (world class school) sebagai patokan adalah upaya untuk mengangkat lembaga pendidikan Islam agar selalu “gaul” dan mengikuti perkembangan mutu sekolah berskala international. Dengan tetap menajga jati diri agama dan bangsa, pada beberapa karakteristik yang sifatnya universal, lembaga pendidikan Islam patut merujuk kepada criteria/karaktersitik sekolah-sekolah unggul di berbagai belahan dunia. Kriteria sekolah efektif menurut hasil analisis yang dilakukan oleh the Connecticut School Effectiveness Project, sebagai berikut:

1. Lingkungan yang asri, nyaman dan aman yang memunculkan suasana kondusif bagi kegiatan belajar mengajar

2. Misi sekolah yang jelas dengan komitmen kepada tujuan instruksional, prioritas, prosedur assessment dan akuntabilitas.

3. Kepemimpinan instruksional di bawah arahan kepala sekolah yang memahami dan menerapkan berdasarkan karakteristik efektifitas instruksional.

4. Adanya Iklim dimana seluruh staf guru mengharapkan dengan sangat (“high expectation”) akan tuntasnya pencapaian basic skill oleh para murid.

5. Motivasi mengajar yang tinggi yang dibarengi dengan adanya harapan yang tinggi dari seluruh staf pengajar akan terbentuknya basic skill di kalangan seluruh murid.

6. Tenaga kependidikan yang “high time on task”: selalu berorientasi kepada penyelesaian tugas, terampil dalam mengelola waktu secara efektif

7. Supervisi yang efektif kepada seluruh pengajar: upaya memberikan bimbingan, feedback (umpan balik) serta dukungan kepada staf pengajar

8. Pemantauan yang berkelanjutan terhadap kemajuan prestasi murid, menggunakan hasil belajar murid untuk program pengembangan individual maupun perbaikan program instruksional, serta melakukan proses penilaian yang sistematis.

9. Hubungan sekolah dan rumah yang positif dimana orangtua memberikan dukungan yang bermakna dan memainkan peranan penting dalam upaya pencapaian misi utama sekolah.

Sementara itu, dalam suatu penelitian lain, diperoleh gambaran bahwa sekolah-sekolah yang ada di berbagai Negara maju: Taiwan, Jepang, Jerman, Korea, New Zealand, Israel dan lain-lain yang kemudian disebut sebagai sekolah kelas dunia (world class school), memiliki standard hal-hal berikut:

1. Memiliki kurikulum dan standard penilaian (test) nasional. Mereka memiliki kurikulum dan tes standar nasional, selain untuk kepentingan mobilitas siswa juga untuk menjadi ukuran kemajuan nasional.

2. Jumlah hari efektif sekolah 201 hari. Jumlah hari efektif mereka belajar dan bekerja di sekolah selama setahun yang dimanfaatkan secara optimal.

3. Jumlah jam belajar di rumah/mengerjakan PR = 2.4 jam/hari

4. Pemerintah memfasilitasi rencana strategis dan kerangka manajemen

5. Guru mendapatkan respek dan penghargaan yang tinggi. Di Jepang, tinggal dan bertetangga dengan seorang guru merupakan kebanggaan dan menaikkan status symbol mereka, di Taiwan guru tidak membayar pajak penghasilan dan Hari Konfusius di rayakan sebagai ”Hari Guru”.

6. Kuatnya dorongan dan etka belajar keras meraih prestasi kepada seluruh murid; Masyarakat dan orangtua memberikan respek yang tinggi kepada guru dan siswa yang menunjukkan kinerja baik dalam proses mengajar dan belajar. Mereka sangat menghargai prestasi, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang terpuji dan luhur.

PENUTUP

Kebangkitan dan kejayaan suatu kaum tidak akan pernah sukses kalau sendi dan pilar pendidikannya rapuh. Menjayakan sekolah merupakan suatu keniscayaan (compulsary) yang tidak terbantahkan baik ditinjau dari aspek logis, idealis, filosofis ataupun historis. Sekolah Islam seharusnya memainkan peranan yang penting dalam memajukan mutu pendidikan, baik untuk dirinya maupun dalam konteks pendidikan nasional. Kebangkitan sekolah Islam bersendikan kepada pengembangan model sekolah yang mengacu kepada azas-azas pendidikan sebagaimana diisyaratkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah, dan diinspirasi oleh temuan-temuan riset pendidikan dan pengalaman sekolah-sekolah modern kelas dunia.

Setidaknya, di kalangan masyarakat, upaya peningkatan mutu sekolah Islam mulai bergerak. Beberapa pihak mulai menyadari pentingnya membangun sekolah/lembaga Islam yang berwawasan visioner dan global. Demikian pula komunikasi jaringan antar sekolah-sekolah Islam mulai marak di 5 tahun terakhir. Upaya-upaya yang ada, meskipun belum membuahkan hasil yang optimal, paling tidak ada kesadaran kolektif akan pentingnya membangun pendidikan Islam yang bermutu, guna menyiapkan generasi yang beriman, bertaqwa, cerdas dan terampil. Perlu mendapat dukungan semua fihak, WaLlahu a’lam.

----------------------

Kamis, 11 Mei 2017

manajemen kurikulum terbaru

MAKALAH MANJEMEN KURIKULUM
Konsep Pengembangan Manajemen Kurikulum
Dosen Pembimbing : Drs.Maesaroh,M.A



Disusun oleh:

MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
IAINU KEBUMEN
TAHUN AJARAN 2015/2016






KATA PENGANTAR
Puji dan syukur atas kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah – Nya sehingga penulis dapat  melengkapi tugas “MANAJEMEN KURIKULUM”  sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan. Sholawat serta salam senantiasa kita curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah menghantarkan kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang ini.
Kami sebagai penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini pasti jauh dari kesempurnaan, akan tetapi usaha yang maksimal dan kerja team yang kompak kami lakukan untuk terciptanya hasil yang maksimal. Terimakasih kami sampaikan kepada Drs.Maesaroh.M.A selaku dosen pengampu dan kepada semua pihak yang telah memberikan partisipasinya  dalam penyusunan makalah ini, semoga ALLAH SWT senantiasa membalas semua kebaikan yang telah diberikan kepada kami. Aamiin.
Demikian yang dapat kami sampaikan. Kritik dan saran untuk perbaikan makalah yang akan datang selalu kami nantikan, semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Kebumen,22 Maret 2017

( Penulis)






Daftar isi






           









PEMBAHASAN

Secara Etimolohis kurikulum berasal dari bahasa yunani,yaitu curir yang artinya pelari dan curere yang berarti tempat pacu.Jadi istilah kurikulum dalam dunia olah raga,pada zaman romawi kuno di yunani yang mengandung Pengertian suatujarak yang ditempuh dalam kegiatan berlari mulai dari garis start sampai dari garis finish[1].
Pengertian kurikulum secara Tradisional
Kerikulum adalah mata pelajaran yang diajarkan sekolah atau bidang studi.Pengertian ini sejalan dengan pengertian webter’s new word dinoctary yang menyatakan bahwa kurikulum adalah”All The Course Of Study Given In A Education Institution”yang berarti bahwa kurikulum adalah semua bidang studi yang diberikan dalam lembaga pendidikan.
Sedangkan pengertian secara Modern
Kurikulum adalah semua pengalaman actual yang dimiliki siswa di pengaruh sekolah,sementara bidang studi adalah bagian kecil Progaram kurikulum secara keseluruhan.Hal ini juga diperkuat oleh Saylor dan Alexander (1958) bahwa Kurikulum adalah keseluruhan usaha sekolah dalam mempengaruhi belajar anak yang berlangsung di dalam kelas,di sekolah ,maupun si luar sekolah ,maupun diluar sekolah.
Namun juga ada pengertian kurikulum masa kini.
Kurikulum merupakan suatu sistem ,Yaitu ada tujuan,isi,evaluasidan sebagainya yang saling terkait.Disamping kurikulum sabagai Giding Intruction ,juga merupakan alat antisipatori,yaitu alat meramalkan masa depan,bukan hanya sebagai reportial ,yaitu sesuatu yang hanya melapaotkan sesuatu kejadian yang telah berjalan.[2]


Kurikulum mempunyai tujuan yaitu
a)      Tujuan ang dicapai sekolah secara menyeluruh, yang berbentuk pengalaman,ketrampilan dan sikap yang kita harapkan dimiliki siswa.
b)      Yujuan yang dicapai dalam setiap bidang studi,Berbentuk pengalaman ,ketrampilan dan sikap yang diharapkan dapat memiliki murid setelah mempelajari bidang studi tersebut.

Dalam kurikulum terdapat suatu standar isi yang harus diterapkan,isi kurikulum(sebgai kurikulum KBK yangberlaku saat ini )berisi:Pencapai target jelas,materi standar ,standar hasil belajar siswa ,dan prosedur pelaksanaan pembelajaran.
Strategi Pelaksanaan suatu kurikulum tergambar dari cara yang di tempuh dalam melaksanakan pengajaran ,cara didalam mengadakan penilian ,cara ini dalam ,elaksanakan bimbingan dan penyuluhan serta cara mengatur kegiatan sekolah menyeluruhan.

Pendidikan adalah sebagaian keperluan manusia.untuk itu sekolahan harus mengetahui perubahan –perubhan dimasyarakat.karena kurikulum itu sebagai konsumsi peserta didik maka harus dinilai terus menerus dan menyeluruh terhadap bahan program pengajaran.Disamping itu penilaian kurikulum dimaksud juga sebagi feed back(umpan balik)terhadap tujuan metode,sarana,dalam rangka membina dan menegembangan kurikulum lanjut.[3]
.



Secara praktis konsep tanggung jawab tentang model dan pradigma pendidikan Islam yang diharapkan menjadi orientasi dan landasan dalam kurikulum lembaga pendidikan Islam,Yaitu:
1.      Dasar pendidikan ;meletakan pondasi yang kuat untuk melakukan perubahan sikap dan karakter atau tingkah laku melalui belajar dan berlatih.
2.      Tujuan pendidikan:sebuah idiologi yang ingin dicapai.tetapi bukan untuk bertujuan mencari finansial,tetapi untuk bertujuan dunia dan akhirat.namun hakekat sebenarnya pendidikan itu untuk memperbaiki hubungan manusia dengan tuhan,hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitar.
3.      Konsep manusia ;pendidikan islam memandang manusia mempunyai fitra yang harus dikembangkan ,tidak seperti pendidikan sekuler yang memandang manusia dengan Tabularasa,nya.

4.       Nilai; Pendidikan Islam berorientasi pada iptek sebagai kebenaran relatif dan imtaq sebagai kebenaran mutlak.Berbeda dengan pendidikan sekuler yang hanya beroreintasi pada iptek.
Imtaq merupakan wahana yang akan mengarahkan dunia pendidikan menuju target yang dituju, yakni menciptakan generasi beriman dan berilmu yang mampu bersaing dan beriman kepada Allah SWT.

5.      Pendekatan dan metodologi
a)      Mengembanagkan potensi anak dan peserta didik dan memenafaatkan kesempatan secara optimal.
b)      Menegembangkan metode rasional ,empiris,bottom up dan “Menjadi”
c)      Materi ajaran (nash)harus diberikan secara dokterin ,dekduktif,top down,dan “memiliki”
d)      Memberikan bekal danlandasan yang kuat sampai dengan tingkat menengah atas yang siap dikembangkan keberbagai keahlian.

6.      Materi ajar;memadukan aspek tradisional dan moderen sesuai dengan sifat ,corak,dan kebutuhan.

7.      Pendidik, memiliki tiga hal:
a)      Memilki komitmen tinggi ,mengabdi ,dan merasakan pendidikan sebagai panggilan tugas.
b)      Profesional lengkap dengan kepekaan misi dan ketajaman visi serta kcanggian metodologi.
c)      Memilki penghasilan cukup agar benar-benar memiliki tanggalan 30 hari dalam sebulan .
d)      Output:hasil dari pendidikan.
Alumninya :
1.      Learning ability lebih lanjut.
2.      Kegemaran belajar
3.      Mampu tampil beda ,baru dan bernilai tambah.
4.      Mampu dan memikirkan perkembangan iptek dalam persepektif imtaq[4].
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan ,karena kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam melaksanakan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan[5].
Konsep kurikulum Konsep terpenting yang perlu mendapatkan penjelasan dalam teori kurikulum adalah konsep kurikulum. Ada tiga konsep tentang kurikulum, kurikulum sebagai substansi, sebagai sistem, dan sebagai bidang studi.
a.       Kurikulum sebagai suatu substansi: Suatu kurikulum, dipandang orang sebagai suatu rencana kegiatan belajar bagi murid-murid di sekolah, atau sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin dicapai. kurikulum ini berisi rumusan tentang tujuan, bahan ajar, kegiatan belajar-mengajar, jadwal, dan evaluasi. Suatu kurikulum juga dapat digambarkan sebagai dokumen tertulis sebagai hasil persetujuan bersama antara para penyusun kurikulum dan pemegang kebijaksanaan pendidikan dengan masyarakat..
b.      Kurikulum sebagai suatu sistem:. kurikulum merupakan bagian dari sistem persekolahan, sistem pendidikan, bahkan sistem masyarakat. Suatu sistem kurikulum mencakup struktur personalia, dan prosedur kerja bagaimana cara me­nyusun suatu kurikulum, melaksanakan, mengevaluasi, dan menyem­purnakannya. Hasil dari sistem kurikulum ini adalah tersusunnya suatu kurikulum, dan fungsi dari sistem kurikulum ini adalah bagaimana memelihara kurikulum agar tetap dinamis.
c.       Kurikulum sebagai suatu bidang studi:. bidang kajian para ahli kurikulum dan ahli pendidikan dan pengajaran. Tujuan kurikulum sebagai bidang studi adalah mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum. Mereka yang mendalami bidang kurikulum mempelajari konsep-konsep dasar tentang kurikulum. Melalui studi kepustakaan dan berbagai kegiatan penelitian dan percobaan, mereka menemukan hal-hal barn yang dapat memperkaya dan memperkuat bidang studi kurikulum.[6].

Konsep dasar manajemen kurikulum                                                                                      Kurikulum di sekolah merupakan penentu utama kegiatan sekolah. Segala aktivitas siswa mengacu pada kurikulum yang ada. Berdasarkan hal tersebut kurikulum harus tepat dirumuskan secara perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum tersebut  Program pendidikan/ kurikuler tersebut, sekolah/ lembaga pendidikan berusaha mendorong siswa agar berkembang dan tumbuh secara tepat sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.Keterlibatan masyarakatpun ikut andil mengambil bagian penting dalam manajemen kurikulum dimaksudkan agar dapat memahami, membantu, dan mengontrol implementasi kurikulum, mendesain kurikulum, menentukan prioritas kurikulum, melaksanakan pembelajaran, menilai kurikulum, mengendalikan serta melaporkan sumber dan hasil kurikulum, baik kepada masyarakat maupun pemerintah[7].
Kurikulum yang dirumuskan harus sesuai dengan filsafat dan cita-cita bangsa, perkembangan siswa, tuntutan dan kemajuan masyarakat. Pemahaman tentang konsep dasar manajemen kurikulum merupakan hal yang penting bagi para kepala sekolah yang kemudian merupakan modal untuk membuat keputusan dalam implementasi kurikulum yang akan dilakukan oleh guru.[8]
Manajemen Kurikulum membicarakan pengorganisasian sumber-sumber yang ada di sekolah sehingga kegiatan manajemen kurikulum ini dapat dilakukan dengan efektif dan efisien.
Perkembangan kurikulum di Republik Indonesia sampai saat ini telah melahirkan Undang-Undang nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Badan Standar Pendidikan Nasional, disusul dengan Permendiknas 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, kemudian disusul dengan Permendiknas 23 tentang Standar Kompetensi Kelulusan dan Undang-Undang nomor 24 tentang Pelaksanaan Permendiknas Nomor 22 dan 23.
Pembakuan Undang-Undang dan Permendiknas itu menjadi kekuatan hukum bagi penyelenggara pendidikan untuk menata kurikulum dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia sehingga dengan demikian undang-undang dan peraturan menteri pendidikan nasional itu perlu dibaca dan dipahami. 








PENUTUP



Kesimpulan
Konsep Kurikulum sebagai berikut;
1.       Sebagai Sistem adalah ada tujuan ,isi,Evaluasi,dan sebagainya saling terkait.
2.       Sebagai Guidint Intruction adalah ini juga sebagai
*         alat antisipatori:alat yang meramalkan masa depan
*         reportal:sesuatu yang hanya melaporkan suatu kejadia yang telah berjalan.
Jadi kurikulum sesuatu yang sangat menentukan atau sedikit untuk mengantisipasi sesuatu yang akan terjadi.Oleh karena itu kurikulum menunjukan apa yang harus di pelajarioelh peserta didik(what is to be learned)bukan mengapa itu harus dielajariI (why it hould be learned).















 

Daftar Pustaka


Sulityorini,2009,Manajemen Pendidikan Islam konsep, Strategidan Aplikasi,yogyakarta:Teras.
Mastuhu1999,Memperdaya Sistem Pendidikan Islam,Jakarta :Logos
Sulityorini,2014Esensi Manajemen Pendidikan Islam Pengelolahan Lembaga untuk menigkatakan Kualitas Pendidikan Islami,yogyakarta:Teras



[1] Sulistyorini.Mpd,Manajemen Pendidikan Islam.(Yogyakarta:Sukses Offset ,2009).hal 37
[2]  Sulistyorini.Mpd,Manajemen Pendidikan Islam.(Yogyakarta:Sukses Offset ,2009).hal 38-40

[3] Munarji,ilmu pendidikan islam,(jakarta:PT Bina Ilmu,2004)84-86
[4] Mastuhu,Memperdaya Sistem Pendidikan Islam,(Jakarta :Logos ,1999)19
[5] Sulityorini,Manajemen Pendidikan Islam konsep, Strategidan Aplikasi,(yogyakarta:Teras,2009)hal 37
[6] Sulityorini,Esensi Manajemen Pendidikan Islam Pengelolahan Lembaga untuk menigkatakan Kualitas Pendidikan Islami,(yogyakarta:Teras,2014)hal 88

[7] Rusman, manajemen kurikulum (Jakarta: Rajawali pers, 2009), hlm4.
[8] Eliadian, “pengertian manajemen, kurikulum, manajemen kurikulum, dan konsep manajemen kurikulum, http://eliadian.blogspot.com, 20:26/02.03.2013.


Manajemen sarana dan prasarana

Manajemen sarana dan prasarana 1.        Daftar pembelian perabotan /pengadaan perabotan. NO Tanggal ...