Pendahuluan
Supervisi memiliki kedudukan sentral
dalam upaya pembinaan dan pengembangan kegiatan kerja sama dalam suatu
organisasi. Lembaga pendidikan sebagai salah satu bentuk organisasi tentunya
tidak dapat melepaskan diri dari kegiatan supervisi. Dilingkungan lembaga
pendidikan tersebut terlibat sejumlah manusia yang harus bekerja sama dalam
mencapai suatu tujuan. Usaha, penilaian, pembinaan, pengembangan dan
pengendalian lembaga pendidikan tersebut tentunya tidak dapat dilepaskan dari
masalah teknik dan alat serta masalah manusia nya sendiri yang harus mampu
mewujudkan kerja secara efektif. Oleh karena itu, dalam usaha penilaian
pembinaan, pengembangan, dan pengendalian lembaga pendidikan tersebut sangat
diperlukan penerapan supervisi pendidikan.
Departemen Pendidikan Nasional
(1994) merumuskan supervisi sebagai pembinaan yang diberikan kepada seluruh
staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuannya untuk mengembangkan
situasi belajar-mengajar yang lebih baik.[1]
Mulai abad ke-20, supervisi
dikategorikan sebagai supervisi pada masa sekarang. Supervisi ini merupakan
lanjutan dari supervisi manusiawi, tetapi dengan tidak meninggalkan prinsip
supervisi ilmiah. Artinya, dalam batas-batas tertentu supervisi ilmiah masih
dipakai. Hal ini sejalan dengan perkembangan dunia pendidikan, walaupun masih
banyak memakai pendekatan humanisme, namun tetap memakai pendekatan
akuntabilitas untuk hal-hal tertentu.
Supervisi yang memakai pendekatan
humanisme sangat memperhatikan keadaan guru-guru yang akan disupervisi. Keadaan
yang dimaksud mencakup kepribadian, hobi, watak dan bakat setiap guru.
Pengetahuan-pengetahuan tersebut merupakan perlengkapan untuk memahami setiap
guru yang akan disupervisi. Itu sebabnya sebelum mengerjakan tugasnya,
supervisor mengadakan kontrak hubungan dengan guru yang akan disupervisi, agar
ia mengerti keadaan guru itu.
Dalam setiap
kegiatan supervisi terkandung maksud-maksud tertentu yang ingin dicapai dan hal
itu terakumulasi dalam tujuan supervisi. Tujuan supervisi berkaitan erat dengan
tujuan pendidikan disekolah, sebab supervisi pada dasrnya dilaksanakan dalam
rangka membantu pihak sekolah (guru-guru) agar dapat melaksanakan tugasnya
secara lebih baik sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai secara
optimal.
Menurut Feter F. Oliva (1984) tujuan
supervisi adalah (1) membantu guru dalam mengembangkan proses kegiatan belajar
mengajar, (2) membantu guru dalam menterjemahkan dan mengembangkan kurikulum
dalam proses beljar mengajar dan (3) membantu sekolah (guru) dalam
mengembangkan staf.[2]
Agar tujuan-tujuan tersebut dapat
dicapai, maka diperlukan teknik-teknik
khusus suervisi. Menurut Jhon Minor Gwyn (1963:236-327), umumnya alat dan
teknik supervisi dapat dibedakan dalam dua macam alat/ teknik.[3]
Teknik yang bersifat individual, yaitu teknik yang dilaksanakan untuk seorang
guru secara individual dalam rangka pengembangan proses belajar mengajar yang
meliputi kunjungan kelas, observasi kelas, percakapan pribadi, saling
mengunjungi kelas dan menilai diri sendiri. Sedangkan, teknik yang bersifat kelompok, yaitu teknik
yang dilakukan untuk melayani lebih dari satu orang dalam rangka pengembangan
staff yang meliputi orientasi bagi guru baru, panitia penyelenggara, rapat
guru, studi guru, diskusi sengai proses kelompok, tukar menukar pengalaman, loka karya, diskusi
panel, seminar, simposium dan lain sebagainya.
1.
Teknik
yang bersifat individual[4]
a.
Kunjungan
kelas
Teknik
kunjungan kelas dilakukan oleh supervisor dengan mendatangi kelas untuk melihat
cara guru mengajar di kelas. Tujuannya adalah agar supervisor (kepala sekolah)
memperoleh data mengenai keadaan sebenarnya selama guru mengajar. Ada tiga
macam kunjungan kelas yaitu, kunjungan tanpa diberitahu (unnounced
visitation), kunjungan dengan cara memberi tahu terlebih dahulu (announced
visitation) dan kunjungan atas undangan guru (visit upon invitation).
b.
Observasi
kelas
Melalui
kunjungan kelas, supervisor dapat mengobservasi situasi belajar-mengajar yang
sebenarnya. Ada dua macam jenis observasi kelas, yaitu observasi langsung (direct
observation) dan observasi tidak langsung (indirect observation).
Observasi langsung dialukakn dengan menggunakan alat observasi, supervisor
mencatat absen yang dilihat pada saat guru sedang mengajar.Sedangkan observasi
tidak langsung dilakukan dengan cara membatasi guru yang diobservasi pada ruang
kaca, sehingga peserta didik tidak mengetahuinya.
c.
Percakapan
pribadi (komunikasi individu)
Tujuan
dari teknik ini adalah mampu memecahkan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh
guru selama proses pembelajaran untuk kemudian dicarikan solusinya,
menegembangkan hal mengajar yang lebih baik lagi serta memperbaiki
kekurangan-kekurangan yang sering dialami oleh guru dalam melaksanakan tugasnya
disekolah.
2.
Teknik
yang bersifat kelompok[5]
a.
Pertemuan
orientasi bagi guru baru
Pertemuan
ini bertujuan khusus mengantar guru-guru untuk memasuki suasana kerja yang
baru.
b.
Panitia
penyelenggara
Suatu
kegiatan bersama biasanya perlu diorganisasikan. Untuk mengrganisasi tugas
bersama ditunjuk beberapa orang penanggung jawab pelaksana. Para penanggung
jawab tersebut disebut panitia penyelenggara. Panitia dalam menjalankan
tugasnya akan banyak mendapat pengalaman-pengalaman. Berdasarkan
pengalaman-pengalaman itu guru-guru dapat bertambah dan bertumbuh dalam profesi
mengajrnya.
c.
Rapat
guru
Ada
berbagai macam jenis rapat guru seperti diskusi, seminar, rapat periodik, rapat
awal dan akhir tahun, workshop dan lain-lain. Rapat guru bertujuan untuk
meenyatukan pandangan-padangan guru tentang makna pendidikan, mendorong guru
untuk menerima dan melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik dan mendorong
pertumbuhan mereka.
d.
Studi
kelompok Antarguru
Guru-guru
dalam mata pelajran sejenis berkumpul bersama untuk mempelajari suatu masalah
atau sejumlah bahan pelajran. Pokok bahasan telah diperinci dan ditentukan
dalam garis-garis besar atau dalam bemtuk
pertanyaan-pertanyaan pokok yang telah disusun secara teratur.
A.
Pemahaman
tentang teknik supervisi pendidikan bagi Kepala Sekolah dan Guru RA Plus Jaryul
‘Ulum
Kegiatan supervisi yang tidak
membawa kemajuan dalam aktivitas pembelajaran, tentu kegiatan ini menjadi
sia-sia, karena program supervisi dilakasanakan oleh supervisor, laporan telah
disampaikan pada atasan, dana untuk supervisi sudah digunakan, dan waktu
kegiatan supervisi sudah dihabiskan, tetapi tidak ada kemajuan dalam
melaksankan pembelajaran oleh guru maupun siswa. Supervisi dalam kegiatan
pendidikan dan pembelajaran disekolah tidak terjadi begitu saja. Setiap kegitan
supervisi yang dilakukan oleh para supervisor terkandung maksud-maksud tertentu
yang ingin dicapai, maksud yang ingin dicapai itu tentu berkaitan dengan tujuan
supervisi yang berkaitan erat dengan tujuan pendidikan di sekolah. Sebab, supervisi
pada dasarnya dalam rangka membantu pihak sekolah (guru-guru) agar dapat
melaksankan tugasnya secara baik dan berkualitas, sehingga tujuan yang
diharapkan dapat tercapai optimal.
Berdasarkan hasil wawancara yang
dilakukan oleh penulis kepada Kepala Sekolah RA Plus Jaryul ‘Ulum, Ibu
Robingatun[6]
bahwasannya elemen sekolah sudah memahami teknik sekaligus arti penting supervisi
pendidikan. Namun, dalam praktiknya belum berjalan dengan maksimal dikarenkan
berbagai kendala. Diantaranya, banyak program supervisi yang sudah
direncanakan, namun tidak terealisasi sebagaimana mestinya. Beberapa teknik supervisi
yang sudah berjalan di RA Plus Jaryul ‘Ulum antara lain, kominikasi individu,
diskusi kelompok dan rapat yayasan.
Komunikasi individu dilakukan oleh
kepala sekolah dan para guru hampir setiap hari. Kepala sekolah menanyakan
tentang RKH (rencana kegiatan harian) dan alat peraga kepada setiap guru/ wali kelas. Tujuanya
adalah agar pembelajaran dapat berjalan maksiamal serta penyampaian materi
dapat dipahami oleh siswa. Sementara diskusi kelompok dilakukan setiap bulan
sekali. Dalam diskusi kelompok setiap guru/wali kelas menyiapkan kumpulan RKH
yang sudah dijalankan untuk ditandatangani oleh Kepala sekolah. Para guru juga
diberikan forum untuk mengemukakan pendapat, masukan ataupun kendala yang
dihadapi dalam proses pembelajaran. Semua permasalahan tersebut, kemudian
didiskusikan dan dicari solusinya bersama. Sedangkan, rapat yayasan dilakukan setiap tiga bulan
sekali. Rapat ini melibatkan pengurus yayasan, kepala sekolah, dan para guru.
Hal-hal yang biasanya dibahas dalam rapat tersebut adalah evaluasi administrasi
dan sumber daya manusia (guru) serta merumuskan berbagai macam program sekolah.
Namun, karena kurangnya tenaga pendidik serta keterbatasan waktu pengurus
yayasan dalam mengelola sekolah, menjadikan program-program tersebut hanya
sebagai wacana belaka.
Secara singkat gambaran tentang
berbagai cara pelaksanaan pembinaan dan pelayanan profesional guru adalah
sebagai berikut:
No.
|
Jenis
pelayanan/ pembinaan
|
Teknik
pelaksanaan
|
Tujuan
|
Keuntungan
|
Hambatan/
Kelemahan
|
1.
|
Komunikasi
Individu
|
Kepala
Sekolah bertatap muka dengan seorang guru
|
Bantuan
khusus
|
Berdialog
langsung
Lebih
terarah
|
Agak
sulit menentukan waktu
|
2.
|
Diskusi
Kelompok
|
Kepala
sekolah berkumpul bersama semua guru dalam satu tempat
|
Mengetahui
kendala serta masalah yang dihadapi oleh masing-masing guru
|
Pertukaran
pikiran secara umun
Bantuan
diberikan kepada semua guru dalam satu kali pertemuan
|
Menyita
waktu
|
3.
|
Rapat
Yayasan
|
Pengurus
yayasan bersama kepala sekolah dan guru berkumpul bersama dalam satu tempat
|
Mengevaluasi
administrasi dan program-program yang sudah direncanakan serta berinovasi membuat rencana program
baru yang lebih baik
|
Bertukar
pikiran
Lebih
terarah
Berdialog
langsung
|
Kesibukan
pengurus terkadang menjadikan rencana program tidak dapat terealisasi dan
hanya menjadi wacana
|
B.
Pandangan
Supervisi Pendidikan di RA Plus Jaryul
‘Ulum
Istilah supervisi dahulu banyak
digunakan untuk kegiatan yang serupa dengan inspeksi, pemeriksaan, pengawasan
atau penilaian. Dalam konteks sekolah sebagai organisasi pendidikan, supervisi
merupakan bagian dari proses administrasi. Kegiatan supervisi melengkapi
fungsi-fungsi administrasi yang ada disekolah sebagai fungsi terakhir, yaitu
penilaian terhadap semua kegiatan dalam mencapai tujuan.[7]
Namun ada sebagian lembaga pendidikan yang menganggap bahwa kegiatan supervisi
hanya menjadi beban bagi guru dalam pengelolaan lembaga pendidikan. Sehingga
yang terjadi dilapangan, pengumpulan data-data yang dibutuhkan pada saat
kegiatan supervisi hanya sebagai formalitas sebatas untuk memenuhi indikator
yang diberikan oleh supervisor.
RA Plus Jaryul ‘Ulum sebagai salah
satu lembaga pendidikan, menganggap bahwa kegiatan supervisi bukanlah sebuah
beban, melainkan sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh semua elemen
sekolah. Kepala sekolah dan para guru
sadar, bahwa supervisi pendidikan akan berdampak pada kemajuan sekolah.
Kegiatan supervisi memberi semangat dan dorongan bagi elemen sekolah untuk
terus melakukan terobosan-terobosan baru bagi proses pembelajaran, pembenahan
serta evaluasi rencana atau program sekolah dan menjadikan kinerja guru terus
meningkat.
Selain melakukan supervisi intern
kepala sekolah dengan guru serta yayasan, kegiatan supervisi juga dilakukan
dengan IGRA (Ikatan Guru Raudlatul Athfal), pengawas PAI (KEMENAG) dan
masyarakat (wali siswa).
IGRA merupakan wadah bagi guru-guru
RA untuk berkumpul dan berdiskusi membahas segala permasalahan yang berhubungan
dengan pendidikan RA. Pembinaan IGRA dilakukan setiap tiga bulan sekali.
Melalui pembinaan IGRA ini, guru dibimbing dalam melaksanakan tugasnya sebagai
seorang pendidik sekaligus tenaga kependidikan. Sementara itu, kunjungan
supervisi yang dilakukan oleh pengawas PAI dari Kementrian Agama tingkat
Kabupaten dilakukan sangat jarang sekali. Berdasarkan Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/
Madrasah menyebutkan Kompetensi Pengawas TK/RA DAN SD/MI harus memenuhi enam
kompetensi yaitu, (1) Kompetensi Kepribadian, (2) Kompetensi Supervisi
Manajerial, (3) Kompetensi Supervisi Akademik, (4) ompetensi Evaluasi
Pendidikan, (5) Kompetensi Penelitian Pengembangan dan (6) Kompetensi Sosial.[8]
Apabila dilihat dari enam kompetensi tersebut, maka masih banyak pengawas
pendidikan yang perlu mendapatkan pembenahan karena masih belum memenuhi
standar. Namun, karena keterbatasan SDM, membuat peraturan tersebut tidak
terlalu dijadikan acuan secara saklek. Biasanya pengawas PAI meminta pihak sekolah
terkait untuk datang langsung ke kantor Kemenag kabupaten untuk mengumpulan
data-data yang dibutuhkan oleh Kemenag.
Seorang supervisor baik itu kepala
sekolah atau pengawas PAI dalam melaksanakan supervisi hendaknya berlandaskan
pada prinsip-prinsip supervisi. Adapun prinsip-prinsip yang perlu diterapkan
adalah sebgai berikut:[9]
No.
|
Ilmiah
(scientific) berarti:
|
|
1.
|
a.
|
Sistematis,
berarti dilaksanakan secara teratur, berencana dan berkelanjutan.
|
b.
|
Objektif,
artinya data yang didapat berdasrkan hasil observasi nyata. Kegiatan-kegiatan
perbaikan atau pengembangan berdasarkan hasil kajian kebutuhan-kebutuhan guru
atau kekurangan-kekurangan guru, bukan berdasarkan tafsiran pribadi.
|
|
c.
|
Menggunakan
alat (instrument) yang dapat memberi informasi sebagai umpan balik untuk
mengadakan penilaian terhadap proses belajar mengajar.
|
|
2.
|
Demokratis.
Menjunjung tinggi azas musyawarah, meilki jiwa kekeluargaan yang kuat serta
sanggup menerima pendapat orang lain.
|
|
3.
|
Kooperatif.
Maksudnya kerjasama sluruh staf dalam kegiatan pengumpulan data, analisa data
dan perbaikan serta pengembangan proses belajar mengajar hendaknya dilakukan
dengan cara kerjasama seluruh staf.
|
|
4.
|
Konstruktif
dan kreatif. Membina inisiatif guru dan mendorong guru unuk aktif menciptakan
suasana dimana tiap orang merasa aman dan bebas mengembangkan
potensi-potensinya. Supervisor perlu menyesuaikan diri dengan prinsip-prinsip
tersebut.
|
Selain supervisi intern, lembaga
pendidikan juga harus mengadakan kegiatan supervisi ekstern, yaitu supervisi
yang dilakukan oleh masyarakat atau dalam hal ini adalah wali siswa. RA Plus
Jaryul ‘Ulum menerapakan sistem supervisi terbuka. Pihak sekolah cukup kreatif
dalam mewadahi wali siswa, yaitu dengan membuat grup khusus whatsapp
yang anggotanya terdiri dari Kepala sekolah, guru dan wali siswa itu sendiri.
Grup whatsapp ini dijadikan pihak sekolah sebagai tempat untuk memberikan
berbagai informasi mengenai proses kegiatan pembelajaran di lembaga tersebut. Seperti misalnya,
kegiatan ekstrakurikuler, pengumuman-pengumuman dan lain sebagainya. Para wali
siswa dapat langsung mengetahui program-program yang akan dilakukan sekolah dan
kemudian memberikan saran/ masukan dan tanggapan kepada guru bagaimana baiknya
program itu dilaksanakan. Selain menguntungkan bagi wali siswa, guru juga
merasa diuntungkan karena mendapatkan respon serta partisipasi aktif dari wali
siswa sehingga dapat djadikan bahan pertimbangan dalam melaksanakan suatu
program.
C.
Pelaksanaan
Supervisi Hanya Berdasarkan pada
Teknik-Teknik yang Sudah Ada
Supervisi pada masa sekarang lebih
bersifat dinamis. Suatu supervisi yang tidak hanya mengamati, mengontrol,
mengkritik dan menilai saja, tetapi jauh lebih luas daripada itu. Orientasi
kerja supervisor pada masa ini ada dua macam, yaitu orientasi teori yang telah
ada dan orientasi pengembangan guru.[10]Orientasi
kerja yang bertumpu pada teori disebut metode rasional, sebab guru diberi
kesempatan memilih metode pembelajaran secara rasional yang cocok dengan materi
yang akan diajarkan. Sedangkan yang berorientasi pada pengembangan guru disbut
metode intelejensi praktis, sebab guru diharapkan mampu menemukan sendiri
metode pembelajaran yang paling cocok dengan materi yang akan diajarkan dengan
melakukan penelitian tindakan kelas. Namun di Indonesia, tampaknya sulit untuk menjalankan metode intelejensi
praktis, karena masih banyak guru yang kurang bekal pengetahuan.
Untuk mencapai maksud-maksud supervisi
pendidikan, maka dibutuhkan teknik-teknik supervisi. Teknik supervisi
memberikan kemudahan bagi para supervisor dalam menjalankan tugasnya. Namun
karena sudah merasa nyaman dan mudah, para guru kemudian enggan untuk melakukan
inovasi-inovasi supervisi pendidikan. Pada akhirnya pelaksanaan supervisi
pendidikan menjadi kurang maksimal.
Secara keseluruhan, Moh. Rivai
menggambarkan prosedur supervisi pendidikan pada bagan berikut:[11]
Pengumpulan
data, tentang keseluruhan situasi belajar mengajar:
-
murid
-
guru
-
program pengajaran
-alat/
fasilitas
-
situasi
|
Dengan
cara/ teknik:
-
observasi/ kunjungan kelas
-
pertemuan pribadi
-
studi laporan dan dokumen
-
kuisioner
|
b.
Penyimpulan/ penilaian, tentang:
-
keberhasilan murid
-
keberhasilan guru
-
faktor-faktor penunjang yang menghambat dalam PBM
|
Dengan
cara:
-
menentukan kriteria bersama
-
pertemuan pribadi
-
diskusi antar guru
|
c.
Diskusi kelemahan, tentang:
-
penampilan guru didepan kelas
-
penguasaan materi
-
penguasaan metode
-
hubungan antar personil
-
administrasi kelas
|
Denagn
cara:
-pertemuan
pribadi
-rapat
staf
-konsultasi
dengan narasumber/ ahli
|
d.
Memperhatikan kelemahan/ meningkatkan kemampuan, dalam hal:
-
kelemahan/ kekurangan yang telah dikemukakan bersama
|
Denagn
cara:
-
informasi langsung
-
demokrasi
-
inter class dan inter school visit
-
tugas bacaan
-
penataran dalam berbagai bentuk
|
e.
Bimbingan dan pengembangan dalam hal:
-
penerpan hasil usaha
-
peningkatan/ penataran
|
Dengan
cara:
-
kunjungan kelas
-
pertemuan pribadi
|
f.
Penilaian kemajuan, dalam hal:
-
perubahan yang telah tercapai
-
sebagai hasil peningkatan dan bimbingan
|
Dengan
cara:
-
kunjungan kelas
-
pertemuan pribadi
-
observasi
-
diskusi
|
RA Plus Jaryul ‘Ulum sebagai salah
satu lembaga pendidikan yang paling diminati oleh masyarakat daerah sekitar,
juga dalam melaksanakan supervisi masih bertumpu pada teknik yang sudah ada,
seperti komunikasi individu, diskusi kelompok, rapat dan beberapa teknik
lainnya. Pembaruan yang mungkin dilakukan oleh RA Plus Jaryul ‘Ulum adalah
membuat grup whatsapp untuk mewadahi para guru.. Namun secara
keseluruhan, kegiatan supervisi hanya bertumpu pada teknik yang sudah ada.
Karena kebertumpuan ini, kegiatan supervisi hanya dijadikan formalitas dalam
kelembagaan dengan tindak lanjut yang belum jelas.
Kesimpulan
Supervisi merupakan serangkaian
usaha pemberian bantuan kepada guru dalam bentuk layanan professional yag
diberikan oleh supervisor (kepala sekolah, penilik sekolah dan pembina lainnya)
guna meningkatkan mutu proses dan hasil belajar mengajar. Supervisi juga
memiliki kedudukan sentral dalam upaya pembinaan dan pengembangan kegiatan
kerja sama dalam suatu organisasi.
Untuk melakukan kegiatan supervise,
maka diperlukan teknik –teknik tertentu supervisi pendidikan, yaitu supervise
individual dan kelompok. Penggunaan teknik supervise di RA Plus Jaryul ‘Ulum
meliputi, komunikasi individu, diskusi kelompok dan rapat yayasan. Sehingga
pemahaman mengenai teknik-teknik
Berdasarkan hasil wawancara yang
dilakukan oleh penulis kepada Kepala Sekolah RA Plus Jaryul ‘Ulum, Ibu
Robingatun[12]
bahwasannya elemen sekolah sudah memahami teknik sekaligus arti penting
supervisi pendidikan. Namun, dalam praktiknya belum berjalan dengan maksimal
dikarenkan berbagai kendala. Diantaranya, banyak program supervisi yang sudah
direncanakan, namun tidak terealisasi sebagaimana mestinya. Beberapa teknik
supervisi yang sudah berjalan di RA Plus Jaryul ‘Ulum antara lain, kominikasi
individu, diskusi kelompok dan rapat yayasan.
Untuk melakukan kegiatan supervise,
maka diperlukan teknik –teknik tertentu supervisi pendidikan, yaitu supervise
individual dan kelompok. Penggunaan teknik supervise di RA Plus Jaryul ‘Ulum
meliputi, komunikasi individu, diskusi kelompok dan rapat yayasan. Sehingga pemahaman
mengenai teknik-teknik.
RA Plus Jaryul ‘Ulum sebagai salah
satu lembaga pendidikan, menganggap bahwa kegiatan supervisi bukanlah sebuah
beban, melainkan sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh semua elemen
sekolah. Kepala sekolah dan para guru
sadar, bahwa supervisi pendidikan akan berdampak pada kemajuan sekolah.
Kegiatan supervisi memberi semangat dan dorongan bagi elemen sekolah untuk
terus melakukan terobosan-terobosan baru bagi proses pembelajaran, pembenahan
serta evaluasi rencana atau program sekolah dan menjadikan kinerja guru terus
meningkat.
RA Plus Jaryul ‘Ulum sebagai salah
satu lembaga pendidikan yang paling diminati oleh masyarakat daerah sekitar,
juga dalam melaksanakan supervisi masih bertumpu pada teknik yang sudah ada,
seperti komunikasi individu, diskusi kelompok, rapat dan beberapa teknik
lainnya. Pembaruan yang mungkin dilakukan oleh RA Plus Jaryul ‘Ulum adalah
membuat grup whatsapp untuk mewadahi para guru.. Namun secara keseluruhan,
kegiatan supervisi hanya bertumpu pada teknik yang sudah ada. Karena
kebertumpuan ini, kegiatan supervisi hanya dijadikan formalitas dalam
kelembagaan dengan tindak lanjut yang belum jelas.
DAFTAR PUSTAKA
Mukhtar dan Iskandar. 2009. Orientasi Baru Supervisi Pendidikan.
Jakarta: Gaung Persada Press.
Sri Banun Muslim. 2010. Supervisi Pendidikan Meningkatkan
Kualitas Profesionalisme Guru. Badung: Alfabeta.
Made Pidarta. 2009. Supervisi Pendidikan Kontekstual. Jakarta:
Rineka Cipta.
Piet A. Sahertian. 2000. Konsep Dasra dan Teknik Supervisi
pendidikan. Jakarta:PT Rhineka Cipta.
Syaiful Sagala. 2009. Administrasi Pendidikan Kontemporer.
Bandung: Alfabeta
[1] Sri
Banun Muslim, Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas Profesionalisme
Guru, Bandung: Alfabeta, 2010, h. 39
[2]
Ibid, h. 42
[3] Jhon
Minor Gwin, dikutip oleh Prof. Drs. Piet A. Sahertian, Konsep Dasar dan
Teknik Supervisi Pendidikan, Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2000, h.52
[4] Ibid
[5]
Ibid, h. 86
[6]
Hasil wawancara dengan Ibu Robingatun, Kepala Sekolah RA Plus Jaryul ‘Ulum,
tanggal 15 Oktober 2017.
[7]
Mukhtar dan Iskandar, Orientasi Baru Supervisi Pendidikan, Jakarta:
Gaung Persada Press, 2009, h. 39
[8]
Ibid, h. 458
[9] https://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._ADMINISTRASI_PENDIDIKAN,
tanggal 19 Oktober 2017, pukul 16.00 WIB
[10]
Made Pidarta, Supervisi Pendidikan Kontekstual, Jakarta: PT Rineka
Cipta, 2009, h. 79
[12]
Hasil wawancara dengan Ibu Robingatun, Kepala Sekolah RA Plus Jaryul ‘Ulum,
tanggal 15 Oktober 2017.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar