Minggu, 24 Desember 2017

JURNAL TEKNIK SUPERVISI PENDIDIKAN

Pendahuluan
Supervisi memiliki kedudukan sentral dalam upaya pembinaan dan pengembangan kegiatan kerja sama dalam suatu organisasi. Lembaga pendidikan sebagai salah satu bentuk organisasi tentunya tidak dapat melepaskan diri dari kegiatan supervisi. Dilingkungan lembaga pendidikan tersebut terlibat sejumlah manusia yang harus bekerja sama dalam mencapai suatu tujuan. Usaha, penilaian, pembinaan, pengembangan dan pengendalian lembaga pendidikan tersebut tentunya tidak dapat dilepaskan dari masalah teknik dan alat serta masalah manusia nya sendiri yang harus mampu mewujudkan kerja secara efektif. Oleh karena itu, dalam usaha penilaian pembinaan, pengembangan, dan pengendalian lembaga pendidikan tersebut sangat diperlukan penerapan supervisi pendidikan.
Departemen Pendidikan Nasional (1994) merumuskan supervisi sebagai pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuannya untuk mengembangkan situasi belajar-mengajar yang lebih baik.[1]
Mulai abad ke-20, supervisi dikategorikan sebagai supervisi pada masa sekarang. Supervisi ini merupakan lanjutan dari supervisi manusiawi, tetapi dengan tidak meninggalkan prinsip supervisi ilmiah. Artinya, dalam batas-batas tertentu supervisi ilmiah masih dipakai. Hal ini sejalan dengan perkembangan dunia pendidikan, walaupun masih banyak memakai pendekatan humanisme, namun tetap memakai pendekatan akuntabilitas untuk hal-hal tertentu.
Supervisi yang memakai pendekatan humanisme sangat memperhatikan keadaan guru-guru yang akan disupervisi. Keadaan yang dimaksud mencakup kepribadian, hobi, watak dan bakat setiap guru. Pengetahuan-pengetahuan tersebut merupakan perlengkapan untuk memahami setiap guru yang akan disupervisi. Itu sebabnya sebelum mengerjakan tugasnya, supervisor mengadakan kontrak hubungan dengan guru yang akan disupervisi, agar ia mengerti keadaan guru itu.
            Dalam setiap kegiatan supervisi terkandung maksud-maksud tertentu yang ingin dicapai dan hal itu terakumulasi dalam tujuan supervisi. Tujuan supervisi berkaitan erat dengan tujuan pendidikan disekolah, sebab supervisi pada dasrnya dilaksanakan dalam rangka membantu pihak sekolah (guru-guru) agar dapat melaksanakan tugasnya secara lebih baik sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai secara optimal.
Menurut Feter F. Oliva (1984) tujuan supervisi adalah (1) membantu guru dalam mengembangkan proses kegiatan belajar mengajar, (2) membantu guru dalam menterjemahkan dan mengembangkan kurikulum dalam proses beljar mengajar dan (3) membantu sekolah (guru) dalam mengembangkan staf.[2]
Agar tujuan-tujuan tersebut dapat dicapai, maka  diperlukan teknik-teknik khusus suervisi. Menurut Jhon Minor Gwyn (1963:236-327), umumnya alat dan teknik supervisi dapat dibedakan dalam dua macam alat/ teknik.[3] Teknik yang bersifat individual, yaitu teknik yang dilaksanakan untuk seorang guru secara individual dalam rangka pengembangan proses belajar mengajar yang meliputi kunjungan kelas, observasi kelas, percakapan pribadi, saling mengunjungi kelas dan menilai diri sendiri. Sedangkan,  teknik yang bersifat kelompok, yaitu teknik yang dilakukan untuk melayani lebih dari satu orang dalam rangka pengembangan staff yang meliputi orientasi bagi guru baru, panitia penyelenggara, rapat guru, studi guru, diskusi sengai proses kelompok, tukar  menukar pengalaman, loka karya, diskusi panel, seminar, simposium dan lain sebagainya.
1.      Teknik yang bersifat individual[4]
a.       Kunjungan kelas
Teknik kunjungan kelas dilakukan oleh supervisor dengan mendatangi kelas untuk melihat cara guru mengajar di kelas. Tujuannya adalah agar supervisor (kepala sekolah) memperoleh data mengenai keadaan sebenarnya selama guru mengajar. Ada tiga macam kunjungan kelas yaitu, kunjungan tanpa diberitahu (unnounced visitation), kunjungan dengan cara memberi tahu terlebih dahulu (announced visitation) dan kunjungan atas undangan guru (visit upon invitation).
b.      Observasi kelas
Melalui kunjungan kelas, supervisor dapat mengobservasi situasi belajar-mengajar yang sebenarnya. Ada dua macam jenis observasi kelas, yaitu observasi langsung (direct observation) dan observasi tidak langsung (indirect observation). Observasi langsung dialukakn dengan menggunakan alat observasi, supervisor mencatat absen yang dilihat pada saat guru sedang mengajar.Sedangkan observasi tidak langsung dilakukan dengan cara membatasi guru yang diobservasi pada ruang kaca, sehingga peserta didik tidak mengetahuinya.
c.       Percakapan pribadi (komunikasi individu)
Tujuan dari teknik ini adalah mampu memecahkan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh guru selama proses pembelajaran untuk kemudian dicarikan solusinya, menegembangkan hal mengajar yang lebih baik lagi serta memperbaiki kekurangan-kekurangan yang sering dialami oleh guru dalam melaksanakan tugasnya disekolah.
2.      Teknik yang bersifat kelompok[5]
a.       Pertemuan orientasi bagi guru baru
Pertemuan ini bertujuan khusus mengantar guru-guru untuk memasuki suasana kerja yang baru.
b.      Panitia penyelenggara
Suatu kegiatan bersama biasanya perlu diorganisasikan. Untuk mengrganisasi tugas bersama ditunjuk beberapa orang penanggung jawab pelaksana. Para penanggung jawab tersebut disebut panitia penyelenggara. Panitia dalam menjalankan tugasnya akan banyak mendapat pengalaman-pengalaman. Berdasarkan pengalaman-pengalaman itu guru-guru dapat bertambah dan bertumbuh dalam profesi mengajrnya.
c.       Rapat guru
Ada berbagai macam jenis rapat guru seperti diskusi, seminar, rapat periodik, rapat awal dan akhir tahun, workshop dan lain-lain. Rapat guru bertujuan untuk meenyatukan pandangan-padangan guru tentang makna pendidikan, mendorong guru untuk menerima dan melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik dan mendorong pertumbuhan mereka.
d.      Studi kelompok Antarguru
Guru-guru dalam mata pelajran sejenis berkumpul bersama untuk mempelajari suatu masalah atau sejumlah bahan pelajran. Pokok bahasan telah diperinci dan ditentukan dalam garis-garis besar atau dalam bemtuk  pertanyaan-pertanyaan pokok yang telah disusun secara teratur.


A.    Pemahaman tentang teknik supervisi pendidikan bagi Kepala Sekolah dan Guru RA Plus Jaryul ‘Ulum
Kegiatan supervisi yang tidak membawa kemajuan dalam aktivitas pembelajaran, tentu kegiatan ini menjadi sia-sia, karena program supervisi dilakasanakan oleh supervisor, laporan telah disampaikan pada atasan, dana untuk supervisi sudah digunakan, dan waktu kegiatan supervisi sudah dihabiskan, tetapi tidak ada kemajuan dalam melaksankan pembelajaran oleh guru maupun siswa. Supervisi dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran disekolah tidak terjadi begitu saja. Setiap kegitan supervisi yang dilakukan oleh para supervisor terkandung maksud-maksud tertentu yang ingin dicapai, maksud yang ingin dicapai itu tentu berkaitan dengan tujuan supervisi yang berkaitan erat dengan tujuan pendidikan di sekolah. Sebab, supervisi pada dasarnya dalam rangka membantu pihak sekolah (guru-guru) agar dapat melaksankan tugasnya secara baik dan berkualitas, sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai optimal.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis kepada Kepala Sekolah RA Plus Jaryul ‘Ulum, Ibu Robingatun[6] bahwasannya elemen sekolah sudah memahami teknik sekaligus arti penting supervisi pendidikan. Namun, dalam praktiknya belum berjalan dengan maksimal dikarenkan berbagai kendala. Diantaranya, banyak program supervisi yang sudah direncanakan, namun tidak terealisasi sebagaimana mestinya. Beberapa teknik supervisi yang sudah berjalan di RA Plus Jaryul ‘Ulum antara lain, kominikasi individu, diskusi kelompok dan rapat yayasan.
Komunikasi individu dilakukan oleh kepala sekolah dan para guru hampir setiap hari. Kepala sekolah menanyakan tentang RKH (rencana kegiatan harian) dan alat peraga  kepada setiap guru/ wali kelas. Tujuanya adalah agar pembelajaran dapat berjalan maksiamal serta penyampaian materi dapat dipahami oleh siswa. Sementara diskusi kelompok dilakukan setiap bulan sekali. Dalam diskusi kelompok setiap guru/wali kelas menyiapkan kumpulan RKH yang sudah dijalankan untuk ditandatangani oleh Kepala sekolah. Para guru juga diberikan forum untuk mengemukakan pendapat, masukan ataupun kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran. Semua permasalahan tersebut, kemudian didiskusikan dan dicari solusinya bersama. Sedangkan,  rapat yayasan dilakukan setiap tiga bulan sekali. Rapat ini melibatkan pengurus yayasan, kepala sekolah, dan para guru. Hal-hal yang biasanya dibahas dalam rapat tersebut adalah evaluasi administrasi dan sumber daya manusia (guru) serta merumuskan berbagai macam program sekolah. Namun, karena kurangnya tenaga pendidik serta keterbatasan waktu pengurus yayasan dalam mengelola sekolah, menjadikan program-program tersebut hanya sebagai wacana belaka.  
Secara singkat gambaran tentang berbagai cara pelaksanaan pembinaan dan pelayanan profesional guru adalah sebagai berikut:
No.
Jenis pelayanan/ pembinaan
Teknik pelaksanaan
Tujuan
Keuntungan
Hambatan/ Kelemahan
1.
Komunikasi Individu
Kepala Sekolah bertatap muka dengan seorang guru
Bantuan khusus
Berdialog langsung
Lebih terarah
Agak sulit menentukan waktu
2.
Diskusi Kelompok
Kepala sekolah berkumpul bersama semua guru dalam satu tempat
Mengetahui kendala serta masalah yang dihadapi oleh masing-masing guru
Pertukaran pikiran secara umun
Bantuan diberikan kepada semua guru dalam satu kali pertemuan
Menyita waktu
3.
Rapat Yayasan
Pengurus yayasan bersama kepala sekolah dan guru berkumpul bersama dalam satu tempat
Mengevaluasi administrasi dan program-program yang sudah direncanakan  serta berinovasi membuat rencana program baru yang lebih baik
Bertukar pikiran
Lebih terarah
Berdialog langsung
Kesibukan pengurus terkadang menjadikan rencana program tidak dapat terealisasi dan hanya menjadi wacana

B.     Pandangan Supervisi Pendidikan  di RA Plus Jaryul ‘Ulum
Istilah supervisi dahulu banyak digunakan untuk kegiatan yang serupa dengan inspeksi, pemeriksaan, pengawasan atau penilaian. Dalam konteks sekolah sebagai organisasi pendidikan, supervisi merupakan bagian dari proses administrasi. Kegiatan supervisi melengkapi fungsi-fungsi administrasi yang ada disekolah sebagai fungsi terakhir, yaitu penilaian terhadap semua kegiatan dalam mencapai tujuan.[7] Namun ada sebagian lembaga pendidikan yang menganggap bahwa kegiatan supervisi hanya menjadi beban bagi guru dalam pengelolaan lembaga pendidikan. Sehingga yang terjadi dilapangan, pengumpulan data-data yang dibutuhkan pada saat kegiatan supervisi hanya sebagai formalitas sebatas untuk memenuhi indikator yang diberikan oleh supervisor.
RA Plus Jaryul ‘Ulum sebagai salah satu lembaga pendidikan, menganggap bahwa kegiatan supervisi bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh semua elemen sekolah.  Kepala sekolah dan para guru sadar, bahwa supervisi pendidikan akan berdampak pada kemajuan sekolah. Kegiatan supervisi memberi semangat dan dorongan bagi elemen sekolah untuk terus melakukan terobosan-terobosan baru bagi proses pembelajaran, pembenahan serta evaluasi rencana atau program sekolah dan menjadikan kinerja guru terus meningkat.
Selain melakukan supervisi intern kepala sekolah dengan guru serta yayasan, kegiatan supervisi juga dilakukan dengan IGRA (Ikatan Guru Raudlatul Athfal), pengawas PAI (KEMENAG) dan masyarakat (wali siswa).
IGRA merupakan wadah bagi guru-guru RA untuk berkumpul dan berdiskusi membahas segala permasalahan yang berhubungan dengan pendidikan RA. Pembinaan IGRA dilakukan setiap tiga bulan sekali. Melalui pembinaan IGRA ini, guru dibimbing dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang pendidik sekaligus tenaga kependidikan. Sementara itu, kunjungan supervisi yang dilakukan oleh pengawas PAI dari Kementrian Agama tingkat Kabupaten dilakukan sangat jarang sekali. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/ Madrasah menyebutkan Kompetensi Pengawas TK/RA DAN SD/MI harus memenuhi enam kompetensi yaitu, (1) Kompetensi Kepribadian, (2) Kompetensi Supervisi Manajerial, (3) Kompetensi Supervisi Akademik, (4) ompetensi Evaluasi Pendidikan, (5) Kompetensi Penelitian Pengembangan dan (6) Kompetensi Sosial.[8] Apabila dilihat dari enam kompetensi tersebut, maka masih banyak pengawas pendidikan yang perlu mendapatkan pembenahan karena masih belum memenuhi standar. Namun, karena keterbatasan SDM, membuat peraturan tersebut tidak terlalu dijadikan acuan secara saklek.  Biasanya pengawas PAI meminta pihak sekolah terkait untuk datang langsung ke kantor Kemenag kabupaten untuk mengumpulan data-data yang dibutuhkan oleh Kemenag.
Seorang supervisor baik itu kepala sekolah atau pengawas PAI dalam melaksanakan supervisi hendaknya berlandaskan pada prinsip-prinsip supervisi. Adapun prinsip-prinsip yang perlu diterapkan adalah sebgai berikut:[9]
No.

Ilmiah (scientific) berarti:
1.
a.
Sistematis, berarti dilaksanakan secara teratur, berencana dan berkelanjutan.

b.
Objektif, artinya data yang didapat berdasrkan hasil observasi nyata. Kegiatan-kegiatan perbaikan atau pengembangan berdasarkan hasil kajian kebutuhan-kebutuhan guru atau kekurangan-kekurangan guru, bukan berdasarkan tafsiran pribadi.

c.
Menggunakan alat (instrument) yang dapat memberi informasi sebagai umpan balik untuk mengadakan penilaian terhadap proses belajar mengajar.
2.

Demokratis. Menjunjung tinggi azas musyawarah, meilki jiwa kekeluargaan yang kuat serta sanggup menerima pendapat orang lain.
3.

Kooperatif. Maksudnya kerjasama sluruh staf dalam kegiatan pengumpulan data, analisa data dan perbaikan serta pengembangan proses belajar mengajar hendaknya dilakukan dengan cara kerjasama seluruh staf.
4.

Konstruktif dan kreatif. Membina inisiatif guru dan mendorong guru unuk aktif menciptakan suasana dimana tiap orang merasa aman dan bebas mengembangkan potensi-potensinya. Supervisor perlu menyesuaikan diri dengan prinsip-prinsip tersebut.

Selain supervisi intern, lembaga pendidikan juga harus mengadakan kegiatan supervisi ekstern, yaitu supervisi yang dilakukan oleh masyarakat atau dalam hal ini adalah wali siswa. RA Plus Jaryul ‘Ulum menerapakan sistem supervisi terbuka. Pihak sekolah cukup kreatif dalam mewadahi wali siswa, yaitu dengan membuat grup khusus whatsapp yang anggotanya terdiri dari Kepala sekolah, guru dan wali siswa itu sendiri. Grup whatsapp ini dijadikan pihak sekolah sebagai tempat untuk memberikan berbagai informasi mengenai proses kegiatan pembelajaran  di lembaga tersebut. Seperti misalnya, kegiatan ekstrakurikuler, pengumuman-pengumuman dan lain sebagainya. Para wali siswa dapat langsung mengetahui program-program yang akan dilakukan sekolah dan kemudian memberikan saran/ masukan dan tanggapan kepada guru bagaimana baiknya program itu dilaksanakan. Selain menguntungkan bagi wali siswa, guru juga merasa diuntungkan karena mendapatkan respon serta partisipasi aktif dari wali siswa sehingga dapat djadikan bahan pertimbangan dalam melaksanakan suatu program.
C.    Pelaksanaan Supervisi Hanya Berdasarkan  pada Teknik-Teknik yang Sudah Ada
Supervisi pada masa sekarang lebih bersifat dinamis. Suatu supervisi yang tidak hanya mengamati, mengontrol, mengkritik dan menilai saja, tetapi jauh lebih luas daripada itu. Orientasi kerja supervisor pada masa ini ada dua macam, yaitu orientasi teori yang telah ada dan orientasi pengembangan guru.[10]Orientasi kerja yang bertumpu pada teori disebut metode rasional, sebab guru diberi kesempatan memilih metode pembelajaran secara rasional yang cocok dengan materi yang akan diajarkan. Sedangkan yang berorientasi pada pengembangan guru disbut metode intelejensi praktis, sebab guru diharapkan mampu menemukan sendiri metode pembelajaran yang paling cocok dengan materi yang akan diajarkan dengan melakukan penelitian tindakan kelas. Namun di Indonesia, tampaknya  sulit untuk menjalankan metode intelejensi praktis, karena masih banyak guru yang kurang bekal pengetahuan.
Untuk mencapai maksud-maksud supervisi pendidikan, maka dibutuhkan teknik-teknik supervisi. Teknik supervisi memberikan kemudahan bagi para supervisor dalam menjalankan tugasnya. Namun karena sudah merasa nyaman dan mudah, para guru kemudian enggan untuk melakukan inovasi-inovasi supervisi pendidikan. Pada akhirnya pelaksanaan supervisi pendidikan menjadi kurang maksimal.
Secara keseluruhan, Moh. Rivai menggambarkan prosedur supervisi pendidikan pada bagan berikut:[11]
Pengumpulan data, tentang keseluruhan situasi belajar mengajar:
- murid
- guru
- program pengajaran
-alat/ fasilitas
- situasi
Dengan cara/ teknik:
- observasi/ kunjungan kelas
- pertemuan pribadi
- studi laporan dan dokumen
- kuisioner
b. Penyimpulan/ penilaian, tentang:
- keberhasilan murid
- keberhasilan guru
- faktor-faktor penunjang yang menghambat dalam PBM
Dengan cara:
- menentukan kriteria bersama
- pertemuan pribadi
- diskusi antar guru
c. Diskusi kelemahan, tentang:
- penampilan guru didepan kelas
- penguasaan materi
- penguasaan metode
- hubungan antar personil
- administrasi kelas
Denagn cara:
-pertemuan pribadi
-rapat staf
-konsultasi dengan narasumber/ ahli

d. Memperhatikan kelemahan/ meningkatkan kemampuan, dalam hal:
- kelemahan/ kekurangan yang telah dikemukakan bersama

Denagn cara:
- informasi langsung
- demokrasi
- inter class dan inter school visit
- tugas bacaan
- penataran dalam berbagai bentuk
e. Bimbingan dan pengembangan dalam hal:
- penerpan hasil usaha
- peningkatan/ penataran
Dengan cara:
- kunjungan kelas
- pertemuan pribadi
f. Penilaian kemajuan, dalam hal:
- perubahan yang telah tercapai
- sebagai hasil peningkatan dan bimbingan
Dengan cara:
- kunjungan kelas
- pertemuan pribadi
- observasi
- diskusi


RA Plus Jaryul ‘Ulum sebagai salah satu lembaga pendidikan yang paling diminati oleh masyarakat daerah sekitar, juga dalam melaksanakan supervisi masih bertumpu pada teknik yang sudah ada, seperti komunikasi individu, diskusi kelompok, rapat dan beberapa teknik lainnya. Pembaruan yang mungkin dilakukan oleh RA Plus Jaryul ‘Ulum adalah membuat grup whatsapp untuk mewadahi para guru.. Namun secara keseluruhan, kegiatan supervisi hanya bertumpu pada teknik yang sudah ada. Karena kebertumpuan ini, kegiatan supervisi hanya dijadikan formalitas dalam kelembagaan dengan tindak lanjut yang belum jelas.
Kesimpulan
Supervisi merupakan serangkaian usaha pemberian bantuan kepada guru dalam bentuk layanan professional yag diberikan oleh supervisor (kepala sekolah, penilik sekolah dan pembina lainnya) guna meningkatkan mutu proses dan hasil belajar mengajar. Supervisi juga memiliki kedudukan sentral dalam upaya pembinaan dan pengembangan kegiatan kerja sama dalam suatu organisasi.
Untuk melakukan kegiatan supervise, maka diperlukan teknik –teknik tertentu supervisi pendidikan, yaitu supervise individual dan kelompok. Penggunaan teknik supervise di RA Plus Jaryul ‘Ulum meliputi, komunikasi individu, diskusi kelompok dan rapat yayasan. Sehingga pemahaman mengenai  teknik-teknik
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis kepada Kepala Sekolah RA Plus Jaryul ‘Ulum, Ibu Robingatun[12] bahwasannya elemen sekolah sudah memahami teknik sekaligus arti penting supervisi pendidikan. Namun, dalam praktiknya belum berjalan dengan maksimal dikarenkan berbagai kendala. Diantaranya, banyak program supervisi yang sudah direncanakan, namun tidak terealisasi sebagaimana mestinya. Beberapa teknik supervisi yang sudah berjalan di RA Plus Jaryul ‘Ulum antara lain, kominikasi individu, diskusi kelompok dan rapat yayasan.
Untuk melakukan kegiatan supervise, maka diperlukan teknik –teknik tertentu supervisi pendidikan, yaitu supervise individual dan kelompok. Penggunaan teknik supervise di RA Plus Jaryul ‘Ulum meliputi, komunikasi individu, diskusi kelompok dan rapat yayasan. Sehingga pemahaman mengenai  teknik-teknik.
RA Plus Jaryul ‘Ulum sebagai salah satu lembaga pendidikan, menganggap bahwa kegiatan supervisi bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh semua elemen sekolah.  Kepala sekolah dan para guru sadar, bahwa supervisi pendidikan akan berdampak pada kemajuan sekolah. Kegiatan supervisi memberi semangat dan dorongan bagi elemen sekolah untuk terus melakukan terobosan-terobosan baru bagi proses pembelajaran, pembenahan serta evaluasi rencana atau program sekolah dan menjadikan kinerja guru terus meningkat.
RA Plus Jaryul ‘Ulum sebagai salah satu lembaga pendidikan yang paling diminati oleh masyarakat daerah sekitar, juga dalam melaksanakan supervisi masih bertumpu pada teknik yang sudah ada, seperti komunikasi individu, diskusi kelompok, rapat dan beberapa teknik lainnya. Pembaruan yang mungkin dilakukan oleh RA Plus Jaryul ‘Ulum adalah membuat grup whatsapp untuk mewadahi para guru.. Namun secara keseluruhan, kegiatan supervisi hanya bertumpu pada teknik yang sudah ada. Karena kebertumpuan ini, kegiatan supervisi hanya dijadikan formalitas dalam kelembagaan dengan tindak lanjut yang belum jelas.






 














DAFTAR PUSTAKA
Mukhtar dan Iskandar. 2009. Orientasi Baru Supervisi Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada Press.
Sri Banun Muslim. 2010. Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas Profesionalisme Guru. Badung: Alfabeta.
Made Pidarta. 2009. Supervisi Pendidikan Kontekstual. Jakarta: Rineka Cipta.
Piet A. Sahertian. 2000. Konsep Dasra dan Teknik Supervisi pendidikan. Jakarta:PT Rhineka Cipta.
Syaiful Sagala. 2009. Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta





[1] Sri Banun Muslim, Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas Profesionalisme Guru, Bandung: Alfabeta, 2010, h. 39
[2] Ibid, h. 42
[3] Jhon Minor Gwin, dikutip oleh Prof. Drs. Piet A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2000, h.52
[4] Ibid
[5] Ibid, h. 86
[6] Hasil wawancara dengan Ibu Robingatun, Kepala Sekolah RA Plus Jaryul ‘Ulum, tanggal 15 Oktober 2017.
[7] Mukhtar dan Iskandar, Orientasi Baru Supervisi Pendidikan, Jakarta: Gaung Persada Press, 2009, h. 39
[8] Ibid, h. 458
[9] https://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._ADMINISTRASI_PENDIDIKAN, tanggal 19 Oktober 2017, pukul 16.00 WIB
[10] Made Pidarta, Supervisi Pendidikan Kontekstual, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009, h. 79
[12] Hasil wawancara dengan Ibu Robingatun, Kepala Sekolah RA Plus Jaryul ‘Ulum, tanggal 15 Oktober 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Manajemen sarana dan prasarana

Manajemen sarana dan prasarana 1.        Daftar pembelian perabotan /pengadaan perabotan. NO Tanggal ...